Berdasarkan kisah nyata tidak dibuat-buat, sungguh terjadi,
tidak percaya, BACA.
Senin, 23 maret 2014
Jam 09.00 – 09.25 pagi
Penulis: Rendro Aryo Hutomo
BAU MAKANAN MENEROBOS lubang
hidungku dan menembus ke lambung yang kelaparan. Aku terduduk di bangku kayu,
ditengah pasar, di dalam warung soto. Aku menunggui para pelanggan yang sibuk
juga dengan urusan lambug mereka yang berliur minta makan. Namun aku beda, aku
hanya duduk di kursi, berharap dalam hati saat semua orang itu pergi, baru ku pesan
sotoku. Ku buang jenuh dengan meminum susu kedelai, sembari ku lihat ada
bidadari jatuh di pinggir jalan. Ku lihat seorang perempuan muda berjilbab
biru, berkemeja biru muda, bercelana jeans biru tua, sayang sandalnya coklat
tua, malah sandalku yang warna biru, bila kita bertukar sandal mungkin akan
nyentrik sekali warna yang membingkai tubuh perempuan itu. Dia duduk di motor
honda vario hitamnya, kulitnya putih, cahaya matahari memantul di wajah
bersihnya itu, hanya ada cacat segaris kecil dimukanya, mungkin jerawat, mungkin
luka disebelah kanan wajahnya yang tak bisa kulihat jelas dari jarak sepuluh
langkah yang memisahkan kami berdua. Matanya menerawang bagai elang menatap
tajam menunggu sesuatu, entahlah aku tak tahu apa, aku bukan mahluk yang punya
kekuatan membaca pikiran orang.
Disisi lain, aku tetap menunggui
para pelanggan lain yang mulai berkurang jumlahnya, sudah ku hisap habis
larutan susu kedelai yang lantas ku buang sembarangan bungkusnya, menambah
sampah di bawah telapak kakiku. Lalu aku mulai menulis tulisan yang kau baca
ini, tulisan ini sebelum ku ketik di laptop,
ku ketikkan dulu di Hpku sembari melirik perempuan tanpa nama di
seberang jalan itu, dia mulai tampak bosan, menatap kosong ke depan, mengkhayalkan
sesuatu. Perempuan itu semakin jenuh, dia mengeluarkan HP dari kantung celana
di pantatnya, dilihatnya jam di HP, dimasukkan kembali. Untuk membunuh waktu
dia menggerakkan kakinya ke kiri ke kanan, ke atas ke bawah.
Suara ‘pake ceker bang, campur
bang’, suara ibu-ibu dikiri kananku yang
memesan soto. Datanglah giliranku yang memesan soto campur tanpa ceker, sambil
lalu ku lihat tingkah polos dua gadis kecil yang ada di depanku. Ku dengar pula
himpunan aransemen mesin kendaraan yang menderum tak beraturan, ku susun
ditelingaku mozaik tangga nada bersuara brum-brum dari campuran suara knalpot
motor, suara bajaj, suara langkah kaki, perbincangan orang-orang sekitar yang
lewat, suara anak kecil perempuan yang bernyanyi tak karuan disebelah Ibunya
yang duduk di sisi kananku.
Ku lihat lagi perempuan di
seberang, dia memajukan kepalanya, bersender di stang motor, ujung bibirnya
bersentuhan dengan rambut-tambut kecil di kulit telapak tangannya,
dijentik-jentikkan jarinya ke spion. Bisa kurasakan dia tak peduli dengan
sekitar. Perempuan itu menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Dia menunduk
melindungi dirinya dari panas matahari yang naik turun tanpa peringatan.
Tiba-tiba silau, menyakitkan mata, pantulan cahaya dari spion motor yang lewat
menusuk ke mataku. Reflek, ku alihkan pandangan ke kucing dibawahku yang
menyapa dengan meongnya meminta makan kepadaku, tapi ku tak punya yang dia mau.
Lalu suara musik keliling membahana di sebelah kiriku. Sial, perempuan itu
pergi memajukan motornya, menghilangkan ketenangan sesaat dalam benakku.
Ternyata dia menjemput Ibunya yang baru berbelanja sayur. Ibunya berbicara
mungkin kata terima kasih telah menunggu. Perempuan itu terus memacu motornya
pergi, menjauh. Mengganggu sekali suara penyanyi dangdut keliling yeng mendekat
memecahkan fokus observasiku. Kapan aku melihat perempuan itu lagi? Sekali lagi
atau berkali-kali, hanya melihat tanpa mampu mendekat, sudah cukup. Kejutan,
soto yang ku pesan datang ke mejaku. Kuhentikan mengetik tulisan ini dihpku dan
dilaptop ini dan aku mulai makan soto waktu itu.