Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Molekul Pikiran

Cerita 17
Jakarta, 14 Maret 2014
MOLEKUL PIKIRAN
Penulis: Rendro Aryo Hutomo

“Aku tuliskan ini untuk seorang gadis bernama kebosanan yang terus menyertai hidupku timbul-redup tak menentu seperti perasaan saat kita mau kencing yang tak bisa diatur oleh pikiran. Aku tuliskan ini untuk seorang perempuan bernama Inspirasi, yang saat aku butuhkan dia menghilang, tapi bisa hadir tiba-tiba, seperti keinginan saat buang air besar yang juga tak bisa diatur. Aku persembahkan tulisan ini untuk seorang gadis yang tak pernah ku temui, yang hanya ada dalam mimpiku, yang tak ku ketahui namanya, yang saat aku ingin menuliskan tentangnya, aku lupa kisah-kisahnya, aku tulis ini untuk mengingat itu, memotret keindahan itu dan menguncinya dalam  otakku agar tak lepas-lepas”.
Ini kisahku. JANGAN DIBACA.
Dan aku menyudut, tersudut dan disudutkan dalam larutan popularitas yang staknan dan tak bisa digerakkan, seperti robot canggih yang sudah rusak mesinnya, seperti itulah kinerja hidupku saat ini.
Sturktur-struktur, pola-pola, jaringan-jaringan yang mati suri dan minta di doakan setiap hari agar bisa tumbuh subur seperti tanaman yang telah diberi kotoran ternak. Aku adalah mahluk bernama manusia tinggal di kotak-kotak semen yang disusun sedemikian rupa dengan rumus arsitektur yang kini jadi asal-asalan. Aku adalah lelaki pemimpi, yang mimpinya terlalu tinggi. Bahkan saking tingginya mimpi ini mampu menembus langit ketujuh, lalu lapisan langit lainnya yang tak mungkin ada, lapisan langit satu trilyun bahkan lapisan langit yang tak bisa dihitung lagi bilangan aritmatikanya.

Aku pernah bermimpi menarik matahari, dengan cara aku muntah keluar dari bumi, lalu aku melayang dan bisa hidup tanpa oksigen, bisa bergerak bebas walau tanpa gravitasi di luar angkasa. Aku bergegas menuju matahari. Ku pegang matahari itu dengan jemariku, matahari itu jadi beku, warna kuning kemerahannya jadi biru, lalu matahari itu pecah berkeping-keping, pecahannya beterbangan seenaknya, kemana saja, sesuka hati mereka, menuju rasi bintang antah-berantah dan menghilang. Yang tersisa adalah inti matahari yang sebesar bola kaki. Aku mantrai matahari itu hilang panasnya. Aku makan inti matahari itu seperti makan donat dan kini tubuhku bersinar sangat terang. Dari lubang tubuhku, lubang mulutku, lubang hidungku, lubang telingaku, lubang mataku, lubang duburku keluar cahaya terang menembus-nembus berkilauan. Kini aku menggantikan matahari yang hanya bisa diam ditempat dikelilingi planet di sekitarnya. Aku berbeda. Aku adalah matahari yang bebas aku matahari yang punya pikiran dan bisa bergerak bebas semauku. Ku harap begitu dalam mimpiku.
Tapi apalah daya aku hanya manusia biasa yang hidup di dunia nyata. Aku punya impian bisa menginjak daratan Amerika, tempat budaya pop merajalela meracuni manusia-manusia. Sudah capek ngetik.
Mungkin kau bosan membacanya, atau kau tak membacanya karena ada tulisan JANGAN DIBACA.
Ya sudahlah ini unek-unekku saja.
Habis.

Untuk Windi (Tokoh Fiksi Rekaanku) yang suka bilang “AH-AH-AH”.





Penulis: Rendro Aryo Hutomo
Kata kunci: Amerika

Antara Mamah, Internet dan Google Adsense

Cerita 16
Jakarta, Rabu, 12 Maret 2014
Antara Mamah, Internet dan Google Adsense
penulis: Gordon Bekasi

Suara merduku membelai mesra didalam gayung, menggema keseluruh sudut-sudut kamar mandi hingga lubang-lubang kecoa bau yang tinggal didalamnya. hari ini ketiga ketiga kalinya aku mandi, gerah sangat. Jakarta membuatku sumpek. diantara puja-puji orang-orang Desa terhadap Kota Jakarta kadang membuatku heran, untuk apa mereka memujinya??? 

Seiring berjalannya waktu aku sadar bahwa mereka tidak memuji Kota Jakarta sebagai tempat yang nyaman untuk tempat tinggal tapi sebagai ladang emas tanpa tambang. apapun bisa dijadikan uang, uang, dan uang. Hidup butuh uang, siapapun perlu uang. serba uang, uang, dan uang. Aku sebagai perantau dari desa seperti orang lain berusaha mengadu nasib di Kota yang banyak yang bilang kejam.   

Guuuuuuupprraaaaakkk!!!!! suara ember dari luar kamar mandi terdengar.

"Woiiiiii... Dellii nyokap lo telpon nih! karokean mulu lo!"

Aku terkejut. suaraku menghilang, bayanganku pudar. lantas bergegas keluar kamar mandi dengan handuk, satu di kepala dan satu menutupi badan. 
Teman satu kamar kos membawakan handphone blackberry gemini ku.

"Nih ada telepon dari nyokap lo" 
Sekejap saja aku mengambil handphone dari tangan Reni.

"Halo, Assalamu'alaikum, Mah" 

"Wa'alaikumsalam, Kamu ini kemana saja, mamah dari tadi telepon gak diangkat-angkat, sekali diangkat malah sama Reni" dengan nada heran mamah berusaha menyembunyikan amarahnya.

"Maaf mah, aku tadi lagi mandi."

"Kamu ini perasaan tiap hari kalo mamah telepon pasti lagi mandi, emangnya kamu mandi berapa kali sekali sih? kok kayaknya sering banget??"

"Mah, ini tuh Jakarta, Bukan Purwakarta yang hawanya enggak sepanas disini. aku kalo enggak mandi tuh badan kerasa lengket mah. lagian aku kan cewek, jadi enggak apa-apa dong mah kalo aku merawat badan?" 

"Rawat sih rawat tapi bukan berarti harus mandi terus-terusan dong."

"Iya mah, nanti di kurangi deh mah.. hehehe emang ada apa mah kok dari tadi kata mamah telepon terus ke no aku?"

"Iniloh ada paket baru sampai rumah, tapi mamah enggak tau isinya apa"

"owh itu paling dress dari Zalora mah"

"loh? Zalora itu siapa? teman kamu???"

"Mah, itu toko online mah, kemarin aku beli pake internet gitu"

"Katanya kamu enggak punya uang, kok malah beli-beli pakean gak karuan gitu sih?"

"Itu udah lama mah, tapi baru di kirim kemarin"

"owh yaudah kalo gitu, mamah udah transfer kamu Rp.500.00 buat keseharian, Awas jangan boros ya!"

Sambil mengaruk-garuk tangan, kupindahkan handphone dari kuping kiri ke kuping kananku. sambil melangkah ke kamar aku terus berbicara panjang lebar sama Mamahku.
"Mah, ngomong-ngomong ada paket kiriman buat aku dari Google enggak?"

"Google?" Mamah bingung.

"Iya mah Google, pokoknya nanti ada tulisannya gitu Google Adsense. nah disitu nanti aku bakal dikirim no gitu dari Amerika langsung" dengan sabar aku berusaha menjelaskan

"Amerika??? kamu ngapain sih segala ke Amerika Amerika segala?! kamu ini cewek, jangan macem-macem! kamu mau jadi teroris???" Mamah mulai bawel

"Astaga mamah, Siapa sih yang ke Amerika. aku enggak ke Amerika dan enggak pernah kesana. aku dapat paket dari Amerika soalnya aku punya akunnya. itu dari internet mah. Nanti aku bisa dapat uang dari sana mah. mamah ini gimana sih, makannya dirumah pasang internet dong mah, biar nanti aku terangin langsung di rumah. Mamah kuno...." 
Dengan menahan segala kesabaran aku berusaha menjelaskan ke mamahku..

Tidak terdengar balasan suara apapun, aku terdiam begitupun dengan mamah. kemudian 

"tut.. tut... tut....tut...tut...tut..."

Aku panik, pikiranku melayang kemana-mana. aku takut mamah sakit hati dengan apa yang aku jelaskan barusan. dengan hati yang tidak tenang aku berusaha menelepon balik mamah namun hasilnya nihil. hanya terdengar jaringan sibuk dari seluler yang aku gunakan. ingin rasanya ku lempar handphone blackberry geminiku ini tapi apa guna aku melemparnya. Aku terdiam dikamar, Reni sibuk dengan internetnya. tidak ada dialog diantara kami. tiba-tiba telepon blackberry ku berbunyi kembali, kulihat layar LCD selulerku bertulisan 'MAMAHKU'

"Assalamu'alaikum mah. Mamah maafin aku ya tadi aku enggak bermaksud...."

"Halo Delita, kenapa telepon mamah mati? kamu ini ngomong apa sih?"

"loh aku kira tadi... eh mati sendiri ya mah? mungkin jaringannya lagi jelek mah"

"Iya kayaknya sih gitu, mamah juga suka sebel, ini pasti gara-gara mamah daftar paket telepon murah. Murah sih murah tapi masa tiap 40menit mati sendiri sih.."

"Mamah macem-macem aja sih, bukannya tanya aku dulu"

"Tadi kamu bilang dapat uang, maksudnya gimana?"

"Uang? uang apa ya? ooooh.... yang tadi dari Google adsense itu ya mah?"

"Nah itu tuh"

"Huuuuuuuuhhh...........mamah ini kebiasaan kalo denger kata uang aja langsung deh..."

"ya mamah kan pengen tau juga, apalagi kamu mau dikirim paket-paket aneh dari Amerika itu"

 "Jadi gini mah, aku tau Google Adsense pertama kali itu dari temenku si Peter Anderson temen satu kampusku. jadi dia masih kuliah tapi punya penghasilan dolar gitu perbulannya kurang lebih $500, kalo di rupiahin itu $1 kurang lebih sekitar Rp.10.000 nah mamah bisa kira-kira tuh berapa pendapatan si Peter kalo $500xRp10.000=Rp.....? itu gaji perbulannya aja mah, bayangin aja kalo di kali setahun? lumayan kan..."

"Ya ampun itu gimana caranya"

"panjang mah kalo aku ceritain di telepon enggak kelar-kelar. mending minggu besok aja ya pas aku pulang ke rumah. sekalian mau nyoba dress baruku tadi,heheh"

"huh kamu ini. yaudah kalo gitu, kamu baik-baik disana ya, jaga kesehatan dan inget jangan boros"

"Iya mah, Delita juga tau. gak bakal boros kok."

"yaudah.. Assalamu'alaikum"

"Waalaikumsalam mah".....


TAMAT






Penulis: Gordon Bekasi

Ah-Ah-Ah

=======================
Cerita 15
AH-AH-AH
Jakarta, Rabu, 12 Maret 2014
penulis: Rendro Aryo Hutomo
==========================

Di jalanan yang ramai dan penuh dengan hiruk-pikuk orang-orang. Ada yang berbeda. Peter Anderson nama itu tercantum di kartu nama yang ditempelkan seseorang di saku kemeja diantara buah dadanya yang menonjol. Orang-orang bingung melihatnya karena dia seorang perempuan berparas korea yang berjalan dengan kemeja dan hanya menggunakan sempak di tengah manusia yang lagi berlibur di areal Monas. Orang-orang berbisik, melirik, memberi tanda sinting dengan jari telunjuk. Karena tiba-tiba perempuan itu berteriak “ah, ah, ah” terangsang akan sesuatu. Suara itu semakin menguat, menggema ke berbagai penjuru monas. Sampai bangunan monas bergetar dan retak, retak dan emas kuning di puncak monas roboh jatuh ke bawah. Gubrak. Suasana heboh.
Para petugas keamanan mulai mengejar perempuan itu yang tetap bersuara “ah-ah-ah”. Mulai semakin mengganggu sekitar. Suara itu membuat para penjual dagangan menari hula-hula tarian ala hawai. Absurd. Orang-orang yang kesal marah berkata “lonte”, “perek”, “pelacur”, “iblis”. Ratusan manusia itu berkerubung mencoba mendekati, menangkap si perempuan misterius ini. Tapi apalah daya mereka malah ikut menari hula-hula.
Orang-orang yang melihat kejadian aneh itu kabur ketakutan dan hanya satu orang yang tetap diam ditempatnya dia langsung berbicara monolog , bukan suara hati, berbicara diantara ribuan orang yang panik dan kabur dari areal monas.
“Nama asli saya Peter Anderson, saya jurnalis, umur saya 32 tahun, saya punya istri di rumah, entah dia kesurupan mahluk apa, tapi kini dia di depan saya bersuara ah-ah-ah itu, bagaimana saya menghentikannya, saya tidak mau merekam hal ini, saya tidak mau dua anak saya di rumah melihat Ibu mereka menjadi sinting seperti ini, apa yang harus saya lakukan”.
Orang-orang yang kabur mendekati Peter Anderson yang asli mengajaknya lari dari situ.
“Kabur”
“Lari”
“Ayo”
“Jangan Disini”

Peter Anderson tak menggubris, terus berjalan, bahunya menabrak orang-orang dan suasana gaduh itu mulai berkurang. Peter Anderson mencoba mendekati istrinya, mengelus pipinya, rambutnya, bibirnya. Peter mulai angkat bicara.
“Ayo pulang”
“Ah, ah, ah”
“Pulang Windi”
“Ah, ah, ah”

Peter Anderson menampar istrinya Windi. Istrinya terdiam sebentar lalu bicara “ah-ah-ah” lagi. Peter Anderson meneteskan setetes air mata dengan sangat pelan. Lalu Peter mencoba menutup mulut Windi. Suara “ah-ah-ah”nya jadi samar. Orang yang berjoget Hula-Hula mulai berhenti. Peter merengut melihat sekitarnya. Orang-orang yang joget Hula-Hula itu seolah tak ingat apa-apa. Dan Peter mendekap Windi memaksanya pergi dari monas. END.
·        31287561

Penulis: Rendro Aryo Hutomo


Sakaratul Maut Peter Anderson

Cerita 14
Sakaratul Maut Peter Anderson
Jakarta, 12 Maret 2014
penulis: Wawan P Sirait

Hai perkenalkan, aku temannya Rendro, Namaku Peter Anderson. Kalian pasti bertanya kenapa namaku Peter Anderson? agak ke barat-baratan ya? sebetulnya emang iya. Walaupun Ibuku pribumi tapi Ayahku keturunan Amerika yang tinggal di Indonesia, tapi sekarang mereka lebih memilih tinggal di Amerika. Aku seperti anak yang terbuang dan hidup mandiri disini. Walaupun orang tua ku selalu mengirimkan uang namun aku tidak pernah menggunakannya. Mungkin dolar menumpuk di rekeningku karena tiga tahun sudah aku tak menyentuhnya. Aku lebih memilih bekerja sebagai penjaga warnet untuk membiayai kehidupanku. mungkin bagi sebagian orang mempunyai mimpi untuk tinggal di Amerika adalah sebuah cita-cita luhur karena hidup akan lebih baik tapi bagiku American dream adalah sebuah kebencian. Tapi bukan itu yang mau aku ceritakan. Aku bingung mau aku mulai darimana kisahku ini yang jelas aku seorang lelaki yang memiliki jenggot 'seuprit' sebagaimana remaja yang baru tumbuh jenggot. aku mau menceritakan segala kegelisahan sekaligus sebuah pertanyaan yang selalu menghantui kehidupanku yaitu KE-MATI-AN. 

Sering aku bertanya pada diri aku sediri kenapa kematian kadangkala terjadi menjelang subuh? tentu saja aku berkata begini karena pengalamanku beberapa kali mendengar, melihat, bahkan ‘merasakan.....’ 

Malam itu tiba-tiba saja badanku demam, kepala pusing, mata berkunang-kunang dan tentu saja badan lemas tidak karuan. aku tinggal disebuah apartemen di jakarta, Jauh dari orang-orang yang memiliki tingkat solidaritas yang tinggi. Terjebaknya aku didalam apartemen busuk ini tentu saja bukan tanpa alasan, sifat dasarku yang suka menyendiri menjadi alasan utama kenapa aku berada di apartemen ini. Kesendirian bagiku adalah sebuah ketenangan yang selalu aku impikan dari semenjak aku kecil hingga saat ini. Pikiranku akan lebih jernih jika adanya ketenangan, aku tidak terbiasa dengan hingar-bingar kebisingan yang memecahkan telinga. Jika aku berada di keramaian batinku selalu menolak untuk berada disekitar situ. Aku benci sekali area turism yang banyak dikunjungi oleh orang-orang. Kembali ke kondisi badanku yang terserang demam, sudah dua hari ini aku tersiksa seperti mayat hidup yang sudah tidak ada gunanya lagi. pikiranku melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang melintas di dalam batinku yaitu apakah aku sebentar lagi akan merasakan sakaratul maut?

Siang itu aku kembali bercinta dengan rasa sakit yang aku rasakan begitu menyiksa. Demamku semakin parah padahal sudah empat hari ini aku istirahat. Aku pasrah dan terbaring begitu saja, tanpa harapan dan putus asa tentunya. Bel apartemen tiba-tiba berbunyi. Aku meyakinkan diriku apakah suara itu hanya mimpi? aku kembali terdiam namun bel kedua berbunyi kembali. Aku putuskan untuk mengangkat badanku yang berat dan sempoyongan. Rasa lemas dan letih tentu saja sirna oleh semangat akan adanya harapan, akan ada yang menolongku disaat aku sakit seperti ini. 

Ku buka pintu kamar apartemenku, kulihat sosok wajah yang tidak aku kenal. goresan kulit yang tajam dan berwarna kelam menandakan orang ini pekerja keras dan sudah berusia. Kulihat pakaiannya dan barulah aku menyadarinya bahwa dia adalah pekerja Post Indonesia. Aku sebut dia bapak tua. Dengan senyum ramah yang tidak aku harapkan kehadirannya dia menyodorkanku selembar kertas dan memintaku menandatanganinya. Selesai ku tanda tangani dia memberiku sebuah paket yang tidak aku kenal dengan nama pengirim yang aneh...

Kepada Yth: 
PETER ANDERSON
.................................
................................


Pengirim:
NAM SAM NAM
................................
................................


Tentu saja aneh, surat itu dikirim tanpa alamat dan pengirim yang jelas tapi bisa sampai tujuan. aku akan menegur bapak tua itu tapi tanpa kusadari pintu apartemenku sudah tertutup. ku buka kembali pintu itu tapi bapak tua itu sudah tidak berada di tampatnya. aku lirik kembali nama pengirim surat itu 'Nam Sam Nam' siapa sebenarnya dia? Aku seperti bertanya tanpa menemukan solusi jawaban dari pertanyaanku. Kubuka paket itu dan ternyata hanya berisi tulisan yang tidak bisa aku baca. Dan malampun semakin larut, itu artinya aku akan merasakan sakit kembali karena rasa sakit yang dasyat akan aku rasakan ketika malam menjelang tidur tiba.

Disaat menahan rasa sakit, bapak tua itu tiba-tiba muncul dihadapanku tentu saja ini membuatku kaget. Dia mengajaku keluar apartemen dengan dibantu kursi roda. Dia tahu kalau aku sudah tidak kuat lagi berdiri. Dia mendorong kursi rodaku menuju pintu lift. Aku pasrah dan tidak tahu akan dibawa kemana aku ini. Lift itu tidak turun tapi naik ke lantai atas. tepat dilantai 90 kami keluar lift dan tiba-tiba saja badanku menjadi normal. Aku bisa berdiri dan bangkit dari kursi roda ku dan berjalan bahkan sampai berlarian. Barulah aku sadar kalau dihadapanku terdapat hamparan tanah yang luas dipenuhi rerumputan dan beberapa pohon dengan buah yang menyegarkan serta mengalir sebuah sungai yang sungguh indah. Terdapat banyak binatang yang sedang minum di sungai itu. Bapak tua mempersilahkanku bermain dan memakan apapun yang tersedia disana sepuasnya. Aku langsung memanjat sebuah pohon apel yang menjulang tinggi. Ketika pohon itu hendak aku panjat, pohon itu tiba-tiba menjadi rendah dan buahnya bisa aku gapai sepuasnya. Aku senang sekali. Aku memetik beberapa buah apel dan memasukannya kedalam kantongku. Tentu saja aku berpikir akan kusimpan sebagai persediaan. Kumakan satu buah apel yang sudah ku petik itu. Rasanya sungguh lezat, belum pernah aku memakan buah apel selezat ini. Aneh semakin aneh, baru satu gigit aku memakan buat itu tapi tiba-tiba perutku sangat kenyang, seperti setelah makan nasi 5 bungkus. Bapak tua menarik tanganku dan mengajaku masuk kesebuah pintu yang ada di balik pohon apel itu. Kami memasuki pintu dan kegelapan terlihat dibalik pintu itu. Ku dengar sebuah teriakan dari kejauhan. hawa panas dan bau busuk mulai tercium. Pusing dan rasa mual mulai aku rasakan. Tiba-tiba dua orang memegang tanganku. Kulihat tidak seorangpun aku kenal. Tidak ada bapak tua disana. Dua orang itu menarikku kesebuah tempat yang panas dan bau yang menyengat. Disitu terlihat seekor ular penuh luka borok sedang mandi dikolam yang berkobar api. Terlihat banyak nanah ditubuhnya. Ular itu menengok ke arahku dan mengahampiriku. Rasa takut dan jijik membuat aku berusaha melepaskan genggaman tangan dua orang yang memegangiku. Aku berusaha kabur namun tangan mereka terlalu kuat untuk aku lawan. Aku berteriak dan semakin panik. Ular menjijikan itu sudah berada didepanku dan bau busuk semakin menusuk hidung. aku menangis sejadi-jadinya dan.................

Menjerit, Tubuh berkeringat dingin dan aku tersadar rupanya tubuhku masih terbaring di ranjang putih apartemenku. itu hanya mimpi. Ya tentu saja sebuah mimpi buruk bagi orang yang sedang dalam keadaan sekarat sepertiku. Mungkin kalau ada orang di samping ranjangku ketika aku sakit dia akan menyaksikan aku lebih banyak mengigau dibanding tidur nyenyak. 

kubuka lemari persediaan makananku, sudah beberapa hari ini aku makan dengan persediaan makananku yang ada dilemari penyimpanan. sudah tidak ada rasa lezat yang aku rasakan di ujung lidahku. makanan selezat apapun berubah menjadi pahit pekat. ditambah tenggorokanku seperti mau pecah. kering dan sakit.
Pagi itu bel berbunyi kembali. aku muak dengan suara bel. dalam pikiranku, akan ada kejadian aneh apabila aku membuka pintu apartemenku, aku tidak mau bertemu dengan siapapun apalagi bertemu dengan bapak tua yang aneh seperti kemarin. Ketenanganku kembali terusik ketika bunyi bel terdengar kembali bahkah sampai lima kali. Dengan sedikit perasaan kesal, kupaksakan tubuh ini berjalan menghampirinya dan membuka pintu apartemenku. Kali ini aku melihat sosok yang aku kenal, dia adalah Rendro sahabatku. Di membawakan aku bungkusan yang mungkin berisi makanan dan buah-buahan tapi entahlah.
Dugaanku benar bungkusan itu berisi makanan dan buah-buahan, rupanya beberapa hari ini Rendro sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai seorang jurnalis. Entah kenapa dalam beberapa hari ini dia suka bermimpi aneh tentang diriku. Beberapa hari ini dia mengirimi sms dan berusaha untuk menelepon namun telponku tidak aktif. Dia mengira aku sedang sakit dan ternyata memang demikian. Maka dari itu dia berkeinginan setelah selasai bekerja. Dia akan pergi mengunjungiku.

Ku ceritakan tentang apa yang kualami selama ini. kedatangan Rendro membuatku seperti kembali menemukan harapan. Dia merawatku. Berapa kali mengajaku untuk di rawat di rumah sakit namun aku selalu menolaknya. Hampir seminggu Rendro merawatku. Biasanya dia selesai bekerja langsung datang ke apartemenku. Dia menginap disini. Dia bercerita kalau selama aku sakit selalu mengigau, seperti dugaanku, kadangkala aku berjalan sendiri.

Hari itu seperti biasanya Rendro pamit hendak bekerja. Dua hari dia ditugaskan mengadakan liputan ke Semarang. Dia mengaku ada yang aneh di hari itu, tapi dengan berusaha berpikiran positif, dia justru memberiku sebuah semangat untuk sehat kembali.

Menjelang malam aku telah bersiap-siap untuk merasakan rasa sakit yang akan aku rasakan. Akan kutahan sekuat tenagaku. Bahkan kalau bisa akan ku lawan rasa sakit ini.

Malam itu hening, malam itu dingin, tak terdengar suara apapun di dalam maupun diluar apartemenku. Aku berbaring di ranjang putihku. Tak ada rasa sakit, tak ada rasa mengigil, tak ada demam. Menjelang subuh terdengar suara gemuruh kemudian hening kembali dan hawa dingin seperti tertiup di wajahku. Bau bunga melati mulai tercium dan ku lihat ada sebuah cahaya yang tiba-tiba masuk kedalam kamarku. Terlihat sosok wanita berwajah jelita. Dia tersenyum dan mengulurkan tangannya. Aku menyambutnya dengan senyum. Tubuhku tiba-tiba melayang bersamanya. Apartemenku seperti ruangan tanpa tembok. Aku diajak naik. Ku tengok ke bawah dan ternyata disana terdapat seorang pria yang sedang terbaring di ranjang putih. Aku seperti mengenal sosok pria itu. Setelah beberapa saat aku sadar kalau pria itu adalah diriku sendiri. Air mata menetes di pipiku. Aku tersadar ini adalah hari aku berada di dunia. Si cantik jelita bercerita banyak selama perjalanan termasuk tentang si bapak tua yang mengirim surat. Dia adalah malaikat. Nam Sam Nam namanya sekaligus mempunyai arti Bersiaplah. Dia selalu memberikan ‘tanda’ kepada orang yang akan mendekati kematian dengan cara yang berbeda-beda. Aku bertanya kepada si cantik jelita apa isi surat itu dan kenapa aku tidak bisa membacanya. Dia berkata bahwa surat itu berisi sebuah peringatan agar aku bersiap-siap akan menghadapi kematian. Sungguh beruntung yang diberi surat itu sebelum ajal menjelang, itu artinya orang itu adalah orang yang ‘terpilih’. Inilah jawaban dari pertanyaan yang selalu ada dalam benakku. Kepergianku meninggalkan hiruk-pikuk dunia menjelang subuh telah terjadi. Itulah alasan kenapa aku katakan didalam pertanyaan tentang Ke-Mati-an, Aku pernah mendengar, melihat, dan bahkan ‘merasakan’ kematian itu sendiri.

Itulah ceritaku, saat ini aku bisa melihat sahabatku ‘Rendro’ menangisi pemakamanku di Sandiego Hill Karawang. Aku berada di sekitarnya. Tapi dia tidak menyadari hal itu. Kita sudah berbeda dunia. Kelak kita pasti akan berjumpa wahai sahabatku J
Tamat.....





Penulis: Wawan P. Sirait



Belut (Pembuktian Isu)

Cerita 13
Belut (Pembuktian Isu)
Jakarta, 08 Maret 2014

Rendro adalah pria desa yang tampan dan juga pemberani. Dia memiliki wanita pujaan hati anak seorang mantan pelacur yang sudah bertobat bernama Deang qorina biasa dipanggil qori atau eang atau ina terserah pembaca. kisah cinta mereka terhitung belum terlalu lama oleh karna itu ini adalah kali pertamanya Rendro menyambangi rumah qori dengan penuh nyali karna akan menghadapi seorang ibu yang takut anaknya pacaran apalagi sampai melakukan hubungan sex diluar nikah dan akan terbuai seperti dirinya dimasa lampau.


Dengan gagah berani Rendro mengetuk pintu
Tak tok tak tok "Sallamuallaikum, Ada orang? orang ada?"
terus berulang ulang

Hingga Rendro pun sadar ternyata itu bukan rumahnya yang diketok adalah lumbung padi, tempat menyimpan padi hasil panen. Sambil tersenyum kecil dan garuk garuk kepala karna kesalahannya dia mengalihkan pandanganya ke bangunan yang lebih besar di sebelah lumbung padi ternyata disana terlihat sendal jepit yang biasa dipake qori berwarna pink dan bermerk walet, mulai percaya diri rendro beralih ke rumah itu dan mulai mengetuknya.

Suara lebih berwibawa
 "Assalamualaikuum" tiga kali
 terdengar suara lembut dan dibarengi bunyi gesekan engsel pintu
"Walaikumsallam" ngeeeeeeeeekkkk

Aah,ternyata itu qori,dengan jilbab berwarna pink,dan baju lengan panjang yang ketat dan membentuk payudaranya,dan rok panjangnya yang sedikit basah karna habis menjemur pakaian di belakang yang meyebabkan terbentuknya garis-garis celana dalam di pantatnya.

Sambil tercengang Rendro berkata
"Aaaaaaah si neng cantik dan seksi sekali'
Qori berkata dan memperlsilahkan masuk Rendro
"Iiiiiiiiiiihhhh aa"

Waktu semakin siang dan matahari mulai tepat sejajar di atas kepala, qori membawakan minuman untuk Rendro, rumahnya sepi karna ibu qori sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan sandang dan pangan, perbincangan terus berlanjut layaknya pasangan muda mudi semua diperbincangkan dari masalah fisik sendiri hingga gosip anaknya pak lurah suka menyodomi sapi, suasana mulai membosankan seiring matahari mulai bergerak dan berilndung di kanopi pepohonan pedesaan. Rendro mengajak Qori keluar rumah untuk berjalan mengelilingi desa, qori menyanggupinya mulai keluar mengunci pintunya dan kuncinya di taruh di lubang angin di atas kusen pintu sambil dibungkus kertas bertuliskan "neng maen heula bu, sembari ngurek belut di sawah bi eha"(neng main dulu bu,sambil mancing belut di sawah bi eha).

Pembaca bertanya tanya...? kenapa Rendro menyukai si Qori....? nggak bertanya juga ga apa-apa !. pernah ada isu di desa qori adalah wanita soleh yang sudah tidak perawan, tetapi bukan oleh manusia melainkan oleh jok sepedahnya sendiri, iya, Anunya si qori di tusuk oleh ujung jok sepedahnya sendiri dan qori merasa kesakitan dan menikmatinya, bukan karna joknya bisa bergerak sendiri melainkan kala itu qori sedang bersepeda didepanya ada batu cukup besar, rem sepedahnya blong, pantat qori segera turun dari jok, tetapi karna qori memakai rok yang lebar sehingga menaiki sepedahnya harus memasuki joknya kedalam rok dan tepat dikala itu qori tidak memakai celana dalam sehinga memudahkan ujung jok masuk ke vaginanya. sepeda menabrak batu dan bergeser setelah kaki qori sudah menyentuh tanah, sehingga terjadi pergerakan dahsyat sepedah yang berujung ujung sepedah masuk ke vagina qori, qori teriak dengan kerasnya di tengah pematang sawah dikala itu tidak terlihat dari sudut manapun kecuali top angle, Mang Wawan yang sedang mancing belut sambil tengkurep karna seriusnya terkaget kaget dan penasaran siapa yang teriak, mendangahkan kepalanya diantara sawah-sawah yang hijau dan melihat dari kejauhan terlihat qori yang tadinya teriak malah mendesah kenikmatan sambil menggesekgesekan vaginanya ke jok sepedah, terlihat keadaan mulai aneh .

Mang wawan pura-pura batuk
"ekhem ekhem uhuuuk uhuuuk uweeeeek"
Qori kaget dan melihat mang wawan dan cepat-cepat kabur
"saha eta? waduuh hulu belut gede muncul ti sawah"
(siapa itu? waduuh kepala belut besar muncul dari sawah)

Qori langsung mengambil jurus seribu langkah dengan sepedahnya, dan darah keperawanan qori sudah mengotri roknya yang besar, tapi.... yasudahlah itu hanyalah isu dari mang wawan, pembaca jangan terlalu terbawa!, Atas dasar sayang menyebabkan Rendro penasaran sekali ingin mencoba keperawanan qori dan membantah isu tersebut

Beberapa menit mereka berjalan-jalan Rendro menuntun Qori untuk masuk ke hutan, di hutan dekat desa tersebut masih banyak hewan liar yang berhabitat di situ karna itu terlihat jarang sekali manusia yang berani masuk hal itu dimanfaatkan Rendro untuk mengetes keperawanan Qori. Rendro menunjuk Batu besar di tengah hutan untuk mereka beristirahat dibalik batu tersebut. Pembicaraan intim sepasang kekasih yang baru memulai keintimannya, berawal dari pegangan tangan hingga tangan Rendro mulai masuk ke dalam kaos lengan panjang yang ketat milik qori. Wajah qori terlihat malu-malu tapi mau tanpa di relai qori rendro mulai menguasai area payudara qori tetapi beberapa saat kemudian rendro terkaget sambil tangannya masih menyangkut di kutang qori

rendro berkata
"neng pentilnya tiga yah ?"
Qori tersipu malu sambil berkata
"bukan aa itu tai lalat diantara gunung namanya hehehehe"

Alih-alih penasaran rendro meminta qori membuka bajunya dan memang itu adalah tai lalat. Kepalang tanggung rendro melanjuti dengan menjilati pentilnya dan mulai merambah kebagian bawah milik qori, qori nampak malu tapi mau karna sepertinya sudah yakin akan kenikmatan yang akan di dapat,dan darisitulah rendro tidak bisa membantah isu mang wawan ia kecewa tapi menikmati, mukanya sedih tapi masih terus menggenjot si qori, sungguh indah kisah cinta dibalik batu di tengah hutan dekat desa.

Diwaktu yang sama langit sudah  menguning, ibunya qori sudah pulang dari pasar nampak panik melihat rumah tak ada orang di sore hari, ibunya melihat gumpalan kertas membungkus kunci di lubang angin di atas kusen pintu di dekatnya ada spidol hitam, ia mengambil ketas itu dan mengeluarkan kuncinya dan membacanya dengan ekspresi yang datar dia membalas pemberitahuan qory dibalik kertasnya "he'eh teu nanaon, awas mun ngurek belut lalaki !" (iya ga papa, awas kalo mancing belut lelaki). lalu ia masuk ke rumah mengambil lakban dan menempelkan kertas tersebut di depan pintu.



Penulis: Bismo Prades

Kabut Jembut (Saat Kabut Merenggut Dua Nyawa Teman Binatangku)

Cerita 12
Kabut Jembut (Saat Kabut Merenggut Dua Nyawa Teman Binatangku)
Jakarta, 07 Maret 2014



Pagi hari ini berkabut tebal, di sebuah hutan fantasi tinggalah seorang Manusia Sapi (MS). Dia sedang berlari kencang lalu dia bertemu lebah raksasa. Dan mereka saling sapa.

Manusia Sapi : "Hai lebah"
Lebah Raksasa : "Hai sapi, kenapa kau berlari"
Manusia Sapi : "Biasa jogging"
Lebah Raksasa : "Oh yaudah, hati-hati"

5 detik setelah lebah raksasa bilang seperti itu, Manusia Sapi terjatuh dan pingsan karena tak bisa melihat diantara kabut. Lebah Raksasa menemukannya dan mencoba membangunkan si Manusia Sapi dengan menyengatnya. Bukannya malah bangun Manusia Sapi malah jadi bentol-bentol tubuhnya. Panik, Lebah Raksasa pun menggotong si Manusia Sapi pergi.

Lebah Raksasa bicara dalam hati seperti ini "Rumah sakit, puskesmas, dimana ya? Sialan Kabut, Gelap, Tak Bisa Lihat". Dalam Kabut yang semakin menjadi tebalnya Lebah Raksasa terus berjuang melewatinya. Ternyata itu adalah kabut kebakaran. Di hutan di depan Lebah Raksasa ada seekor Babi Naga yang mengamuk dan menyemburkan nafas apinya kemana-mana membakar hutan. Lebah Raksasa berusaha menghentikannya.

Lebah Raksasa : "Heh Babi kenapa kau marah?"
Naga Babi : "Harghhh (Tak peduli tetap mengeluarkan nafas api)"

Sial nafas api Naga Babi menyembur ke tubuh Manusia Sapi. Lengan Lebah Raksasa yang menggotong juga ikut terkena panas api dan Manusia Sapi terjatuh. Lebah Raksasa kesal dan berusaha menghentikan Naga Babi dengan menyengatnya. Naga Babi menjadi bentol-bentol dan keluar api-api kecil dari bentolannya itu.
Hujan tiba-tiba mengguyur dan kabut mulai menghilang. Lebah Raksasa akhirnya bingung dan kesepian karena kedua temannya Manusia Sapi dan Naga Babi terkapar. Lebah Raksasa pun memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk menghidupkan nyawa kedua temannya kembali, walaupun harus mengorbankan nyawanya. Dan doa itu dikabulkan. Nyawa Lebah Raksasa ditukar dengan dihidupkannya lagi nyawa Manusia Sapi dan Naga Babi.

Manusia Sapi dan Naga Babi bingung dengan yang telah terjadi. Lalu Naga Babi menceritakan alasannya membakar hutan adalah karena.....

Si Rendro menceritakan cerita di atas ini kepada seorang perempuan disebelahnya. Lalu si perempuan menjawab "terus lanjutannya apa". Si Rendro menjawab "Kadang sebuah certa gak perlu dilanjutkan".




Pengarang: Rendro/Narindro AH

Kisah Malam Mahluk Tanpa Kepala

Cerita 11
Kisah Malam Mahluk Tanpa Kepala
Bogor, 03 Maret 2014
 
Apa yang telah dijanjikan Setan bernama 'Ruft yang akan merubah seorang pria bernama Rendro menjadi seekor musang akan segera terjadi. Malam bulan purnama menjadi saksi perubahan itu. Ringkikan suara musang memecah belah keheningan malam seolah sebagai tanda akan adanya marabahaya bagi masyarakat Desa Legok. benar saja dalam semalam, sebuah peternakan ayam di serang oleh mahluk yang tidak dikenal warga. kejadian ini tidak terjadi hanya malam itu, bahkan terjadi dimalam-malam berikutnya. hingga akhirnya sangat meresahkan warga. mereka memutuskan untuk mengadakan perburuan dimalam hari. namun hal itu hanya sia-sia saja. mahluk yang ditunggu tidak tampak sedikitpun. 

Suatu malam, warga tetap berjaga-jaga di pos kamling sambil main domino. dua orang telanjang dada sebagai hukuman kekalahannya. keasikan mereka tiba-tiba dikejutkan oleh kedua orang yang telanjang dada tersebut. Mereka melihat seekor Musang tanpa kepala berlari melintasi pos kamling. warga lain panik karena mendengar kejanggalan yang di ceritakan oleh kedua warga tersebut karena hanya kedua warga itulah yang dapat melihatnya. mereka berlari ke peternakan yang ada di desa dan ternyata sudah banyak ternak yang hilang kepalanya dengan darah bersimbah dimana-mana. warga semakin kesal. mereka mengadakan rapat untuk mencari solusi dan akhirnya salah satu warga menyarankan agar mereka berjaga-jaga dimalam hari tanpa menggunakan baju. kesepakatan itu akhirnya di sepakati oleh seluruh warga Desa Legok. hingga tibalah malam.

Warga sudah bersiap-siap di posisinya masing-masing. sesuai kesepakatan mereka tanpa mengenakan baju. sebagian masih menggunakan sarung karena malam itu terasa dingin sekali, begitupun dengan Wahyu. malam semakin larut, sebagian warga mulai masuk angin hingga beberapa orang menyerah untuk tidak menggunakan baju. mereka mulai merasa jenuh dan dingin. hingga menjelang pukul 02:20 terdengar suara ayam. warga berlari kesekitar kandang ayam begitupun Wahyu. dan benar saja seekor Musang sedang beraksi didalam kandang ayam itu. warga semakin geram mereka melihat seekor musang tanpa kepala berusaha mengejar-ngejar ternak. Wahyu yang saat itu menggunakan sarung langsung melepas sarungnya. karena penasaran dia akhirnya melepas celananya dan hanya memakai sempak saja. Namun tiba-tiba wahyu jatuh pingsan. sebagian warga berusaha menolong wahyu dan membawanya ke rumah dalam keadaan pingsan sementara warga lain mengepung Musang tanpa kepala itu, namun musang itu berlari dengan gesit sehingga warga kembali lagi mengalami kegagalan.

Keesokan Wahyu belum juga sadar dari pingsannya. sebagian warga meracik obat untuk kesembuhan Wahyu namun ramuan mereka tidak dapat menyadarkan Wahyu sampai detik ini. seorang warga membawa kelapa hijau muda dan meminumkannya ke Wahyu dan beberapa saat kemudian Wahyu sadar. para warga yang hari itu memadati kediaman Wahyu bersyukur atas kepulihan Wahyu. Wahyu menceritakan segala apa yang dialaminnya malam itu hingga membuatnya menjadi tidak sadar. warga kaget mendengarnya.

Malam berikutnya warga menyiapkan senjata tajam seperti golok, pisau, pedang, dan panah. sebagian ada yang membawa kayu, pentungan, besi dan batu. mereka akan memburu Musang itu tanpa ampun. Sementara Wahyu ikut seperti biasa menggunakan sarung. beberapa orang sudah siap tanpa menggunakan baju dan celana (hanya menggunakan sempak) bahkan sebagian ada yang telanjang namun akhirnya mereka memakai sempak. malam semakin larut hingga 23:45wib belum ada tanda-tanda keberadaan Musang. Wahyu menyalakan sebatang rokok dan berusaha menutup tubuhnya dengan sarung agar tidak masuk angin. sebagian warga asik bermain domino, catur, dan remi. sebagian asik membakar ubi dan api unggun. tidak ada satupun wanita malam itu, tentu saja mereka sepakat bahwa yang berjaga-jaga adalah para lelaki sedangkan para wanita berjaga-jaga didalam rumah masing-masing. jam menunjukan pukul 02:20wib hawa dingin semakin mencekam tiba-tiba terdengar suara teriakan dari salah satu warga. warga lain berlari mendekatinya, mereka memergoki seekor Musang dengan tubuh musang sebagaimana musang-musang pada umumnya hanya ada yang janggal pada bagian tubuhnya. Musang itu mempunyai kepala Manusia yang menyeramkan dengan banyak darah di mulutnya. satu-persatu warga pingsan melihat keanehan tersebut hingga seluruh warga tidak ada yang sadar kecuali Wahyu. Dia kaget dan sadar saat memperhatikan bentuk badan dan wajah Musang itu. Musang itu memiliki wajah yang tidak asing bagi Wahyu. dia seperti mengenal sosok wajah Musang itu. ingatannya ke masa silam saat dia sedang asik berkumpul dengan teman-temannya. disitulah temannya bernama Rendro bercerita bahwa dia ingin melakukan pesugihan. hal ini membuat Wahyu kaget.

Tubuh Wahyu terkulai lemas. mulutnya membisu dan tanpa ada pergerakan Wahyu diam menyaksikan sahabatnya Rendro yang berbentuk Musang meninggalkannya....

......bersambung........ 

***
Penulis: Wawan P. Sirait
Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB