Hana seorang Ibu muda menemani anaknya yang bernama Juni untuk membeli sebuah pensil kuda berponi. Namun toko keong yang menjual alat-alat tulis dan jasa pengetikan, tak menjual pensil seperti itu. Hana mencoba mesin pencarian di HP, tentang pensil kuda berponi. Namun pensil seperti itu wujudnya tak ada.
Juni masih merengek tuk dibelikan Pensil. Hana penasaran untuk apa pensil itu dibeli. Juni ingin membeli pensil itu karena mau saja. Hana jadi bingung dengan anaknya. Hana mengajak anaknya untuk membeli pensil lain saja. Tapi Juni tak mau. Hana menanyakan bentuk pensil itu kepada Juni, Lalu Juni menjelaskan bahwa pensil itu memiliki kuda yag berponi di atasnya dan Juni bisa menaiki kuda itu. Hana tak mengerti. Juni baru ingat pensil itu ia temukan di alam mimpinya. Hana jadi geleng-geleng kepala. Hana bilang kepada anaknya secara perlahan bahwa pensil seperti itu tak ada.
Juni keras kepala, bahwa pensil itu ada. Hana mengatakan dengan halus bahwa itu hanya halusinasinya Juni saja. Juni lalu menangis dan berlari kencang. Hana mengejar anaknya melewati gang-gang pertokoan di pasar. Anaknya hilang. Hana panik, mencoba mencari ke sekitar tapi dia tak kunjung menemukan Juni. Lantas Hana pergi ke security dan minta bantu mencari anaknya. Suara dari speaker menyatakan tentang keberadaan Juni yang pergi. Tapi sampai sore Hana tak kunjung bertemu dengan Juni. Pertokoan mulai tutup. Hana jadi sangat bersedih. Ada telpon dari suaminya di HP, tapi Hana tak mengangkat telpon itu dan mendiamkannya saja.
Lalu Hana meninggalkan areal pertokan. Dia melihat anaknya ada di tempat penyebrangan busway merunduk, menyendiri. Lalu Hana datang dan memeluk Juni dan minta maaf. Hana bilang bahwa pensil kuda poni itu ada. Hana akan membawa anaknya kesana.
Sebuah pensil dipegang. Juni merasa senang. Dunianya berputar-putar, Juni ada di atas kuda putar yang ada di pasar malam. Hana disamping Juni tersenyum bersamanya.
Penulis : Gordon Bekasi
Juni masih merengek tuk dibelikan Pensil. Hana penasaran untuk apa pensil itu dibeli. Juni ingin membeli pensil itu karena mau saja. Hana jadi bingung dengan anaknya. Hana mengajak anaknya untuk membeli pensil lain saja. Tapi Juni tak mau. Hana menanyakan bentuk pensil itu kepada Juni, Lalu Juni menjelaskan bahwa pensil itu memiliki kuda yag berponi di atasnya dan Juni bisa menaiki kuda itu. Hana tak mengerti. Juni baru ingat pensil itu ia temukan di alam mimpinya. Hana jadi geleng-geleng kepala. Hana bilang kepada anaknya secara perlahan bahwa pensil seperti itu tak ada.
Juni keras kepala, bahwa pensil itu ada. Hana mengatakan dengan halus bahwa itu hanya halusinasinya Juni saja. Juni lalu menangis dan berlari kencang. Hana mengejar anaknya melewati gang-gang pertokoan di pasar. Anaknya hilang. Hana panik, mencoba mencari ke sekitar tapi dia tak kunjung menemukan Juni. Lantas Hana pergi ke security dan minta bantu mencari anaknya. Suara dari speaker menyatakan tentang keberadaan Juni yang pergi. Tapi sampai sore Hana tak kunjung bertemu dengan Juni. Pertokoan mulai tutup. Hana jadi sangat bersedih. Ada telpon dari suaminya di HP, tapi Hana tak mengangkat telpon itu dan mendiamkannya saja.
Lalu Hana meninggalkan areal pertokan. Dia melihat anaknya ada di tempat penyebrangan busway merunduk, menyendiri. Lalu Hana datang dan memeluk Juni dan minta maaf. Hana bilang bahwa pensil kuda poni itu ada. Hana akan membawa anaknya kesana.
Sebuah pensil dipegang. Juni merasa senang. Dunianya berputar-putar, Juni ada di atas kuda putar yang ada di pasar malam. Hana disamping Juni tersenyum bersamanya.
Penulis : Gordon Bekasi


No comments:
Post a Comment