Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Pensil Kuda Poni

Pensil Kuda Poni
Hana seorang Ibu muda menemani anaknya yang bernama Juni untuk membeli sebuah pensil kuda berponi. Namun toko keong yang menjual alat-alat tulis dan jasa pengetikan, tak menjual pensil seperti itu. Hana mencoba mesin pencarian di HP, tentang pensil kuda berponi. Namun pensil seperti itu wujudnya tak ada.

Juni masih merengek tuk dibelikan Pensil. Hana penasaran untuk apa pensil itu dibeli. Juni ingin membeli pensil itu karena mau saja. Hana jadi bingung dengan anaknya. Hana mengajak anaknya untuk membeli pensil lain saja. Tapi Juni tak mau. Hana menanyakan bentuk pensil itu kepada Juni, Lalu Juni menjelaskan bahwa pensil itu memiliki kuda yag berponi di atasnya dan Juni bisa menaiki kuda itu. Hana tak mengerti. Juni baru ingat pensil itu ia temukan di alam mimpinya. Hana jadi geleng-geleng kepala. Hana bilang kepada anaknya secara perlahan bahwa pensil seperti itu tak ada.
Juni keras kepala, bahwa pensil itu ada. Hana mengatakan dengan halus bahwa itu hanya halusinasinya Juni saja. Juni lalu menangis dan berlari kencang. Hana mengejar anaknya melewati gang-gang pertokoan di pasar. Anaknya hilang. Hana panik, mencoba mencari ke sekitar tapi dia tak kunjung menemukan Juni. Lantas Hana pergi ke security dan minta bantu mencari anaknya. Suara dari speaker menyatakan tentang keberadaan Juni yang pergi. Tapi sampai sore Hana tak kunjung bertemu dengan Juni. Pertokoan mulai tutup. Hana jadi sangat bersedih. Ada telpon dari suaminya di HP, tapi Hana tak mengangkat telpon itu dan mendiamkannya saja.

Lalu Hana meninggalkan areal pertokan. Dia melihat anaknya ada di tempat penyebrangan busway merunduk, menyendiri. Lalu Hana datang dan memeluk Juni dan minta maaf. Hana bilang bahwa pensil kuda poni itu ada. Hana akan membawa anaknya kesana.

Sebuah pensil dipegang. Juni merasa senang. Dunianya berputar-putar, Juni ada di atas kuda putar yang ada di pasar malam. Hana disamping Juni tersenyum bersamanya.

Penulis : Gordon Bekasi

Odong Odong Cinta

Odong Odong Cinta

Usianya yang renta, membuat orang-orang terheran dengan sebuah kejadian yang menimpanya. Selama 60 tahun hidupnya, Hima dikenal sebagai perawan tua. Lalu ketika ulang tahunnya yang ke enam puluh satu dia menikah dengan seorang tukang odong-odong di KUA secara sederhana. Tentunya cerita tak berakhir dengan sekedar kisah bahagia untuk selama-lamanya. Masih ada lanjutannya. Tukang odong-odong bernama Buyin yang mengaku perjaka, melihat tititnya yang melendot, dia mulai rajin ikut klub senam sehat lansia, tapi karena ketidak pede-annya ia pergi ke toko kuat membeli viagra. Serta tak lupa ia minta jamunya Hima untuk melengkapi malam pertamanya.

Usai malam aduhai syahdu dengan romansa usia senja yang tak terlupakan itu. Hima, masih bekerja sebagai tukang jamu keliling. Sedangkan si tukang odong-odong Buyin mulai senyam-senyum sendiri karena titinya masih bisa berdiri. Lalu ia sibuk bekerja dengan odong-odongnya mengangkut anak-anak kecil di pinggiran kampung Jakarta. Yang asyik naik di atas odong-odong bak berasa dirinya sebagai pembalap F-1 atau koboi dengan kuda dan lassonya. Hanya saja latar mereka, pinggiran kali kotor dengan musik dangdut pantura.

Maghrib tiba. Hima dan Buyin sholat di masjid. Hima saat sholat, tiba-tiba tak enak badan. Lalu Hima meninggalkan syaf dan pergi ke dalam toilet. Terdengar suara ia muntah-muntah. Selesai menghrib-an Hima memberitahu Buyin soal apa yang dialaminya. Komir anak buah Buyin tukang angkut odong-odong yang masih muda nyeletuk bahwa nenek Hima hamil, Karena jamunya bikin anu-nya Om Buyin jadi perkasa. Buyin jadi geram dan menendang selangkangan Komir untuk menutup mulutnya. 

Komir masih menahan perih di tititnya membawa motor pengangkut odong-odong dengan kerlap-kerlip lampunya. Hima dan Buyin jadi penumpangnya. Di tengah jalan Hima muntah lagi. Lantas dengan sigap, mereka pergi ke tabib terdekat. Dan astaganaga dragon, memang benar celotehnya si Komir, Tak salah lagi setelah melakukan uji urin. 100% bisa dibuktikan bahwa Hima hamil.

Kehebohan tak berhenti disitu. Info kehamilah Hima tersebar seantero kampung Kalpas. Banyak anak perempuan cabe-cabean yang mendatangi Hima saat dia berkeliling menjajakan jamu menyarankan untuk sering mendengar lagu klasik Mozart,. Supaya anaknya pintar. Serta baru kali ini Hima minum Jamu kuat XYZ (Plesetan jamu kuat ABC). Buyin yang melihati anak-anak SD yang naik odong-odong bingung kalo punya anak akan bagaimana ngurusnya. Iseng-iseng Buyin minta Hima aborsi. Tentunya Hima jadi kaget dan beristigfar. 

Kejadian ini tak berhenti di dilemanya Buyin, Kisah Hima mulai menyebar bak virus. Orang-orang tv sibuk meliputnya, Hima ditanya hal aneh-aneh, apa mendapat mimpi gaib, atau dia korban asusila. Tentu Hima kabur dari wartawan-wartawan gila yang menanyainya. Bahkan suatu malam di saat tidur, ada ormas agama yang mendemo Hima, mengabarkan bahwa itu adalah anak Dajjal dan tak pantas dilahirkan ke dunia. Buyin hanya bisa bersembunyi di dalam lemari, karena ketakutan dengan golok-golok tajam yang diacungkan. Tapi Hima dia berani dan berorasi bahwa setiap anak memiliki haknya untuk dilahirkan ke dunia, Bahwa anaknya merupakan perkawinan sah antara dia dan Buyin. 

Kehidupan Hima dan Buyin perlahan berangsur membaik 8 bulan telah berlalu. Subuh itu Hima menjadi satu-satunya orang di masjid yang perutnya buncit. Sedangkan Buyin, tampak lega melihat seorang anak yang berjalan bahagia dengan orang tuanya. Pertanda Buyin telah siap jadi Bapak. Hima tak terlalu suka mendengar musik klasiknya Mozart. Ia lebih suka nongkrong sehabis pulang kerja di atas odong-odongnya Buyin. Suara musik dangdut, adalah musik yang paling dinikmati Hima. Hima berharap kelak anaknya akan jadi penyanyi dangdut saja. Tak perlu neko-neko baginya. 

Malam saat akan pulang menuju rumah. Tiba-tiba perut Hima terasa sakit, tapi bukan sembelit, ini rasa sakit yang beda. Dia akan melahirkan. Buyin langsung terkaget-kaget. Malam itu ditempat mangkalnya odong-odong, di sebelahnya minimarket sudah tutup, penjaganya dua orang perempuan tampak kan pergi. Korim dengan kencang menyetop mereka. Dengan bantuan dua penjaga mini market, korim anak buah odong-odong dan si suami Buyin. Hima mulai melahirkan anaknya. Tapi anak itu sulit keluar, Hima polos meminta hidupkan musik dangdut. Lalu Hima mulai merasakan ada energi dalam dirinya. Dalam imajinasi Hima Orang-orang disekitarnya menjadi pemain band dangdut. Buyin bermain gitar, Korim bermain keyboard, perempuan penjaga minimarket satu bermain drum, penjaga minimarket dua bergoyang bohai meminta saweran. Perlahan tapi pasti, Hima pun berhasil mengeluarkan anaknya. Tapi dalam bayangan Hima dia takut anaknya akan berparas dajjal, atau tampangnya akan amburadul. Untungnya sugesti itu tak terjadi anak Hima dan Buyin lahir sehat wal afiat. Seorang lelaki. Hima ingin memberi anaknya dengan nama "Odong Odong".


Penulis: Rendro Aryo

Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB