Cerita 13
Belut (Pembuktian Isu)
Jakarta, 08 Maret 2014
Rendro adalah pria desa yang tampan dan juga pemberani. Dia memiliki wanita pujaan hati anak seorang mantan pelacur yang sudah bertobat bernama Deang qorina biasa dipanggil qori atau eang atau ina terserah pembaca. kisah cinta mereka terhitung belum terlalu lama oleh karna itu ini adalah kali pertamanya Rendro menyambangi rumah qori dengan penuh nyali karna akan menghadapi seorang ibu yang takut anaknya pacaran apalagi sampai melakukan hubungan sex diluar nikah dan akan terbuai seperti dirinya dimasa lampau.
Dengan gagah berani Rendro mengetuk pintu
Tak tok tak tok "Sallamuallaikum, Ada orang? orang ada?"
terus berulang ulang
Hingga Rendro pun sadar ternyata itu bukan rumahnya yang diketok adalah lumbung padi, tempat menyimpan padi hasil panen. Sambil tersenyum kecil dan garuk garuk kepala karna kesalahannya dia mengalihkan pandanganya ke bangunan yang lebih besar di sebelah lumbung padi ternyata disana terlihat sendal jepit yang biasa dipake qori berwarna pink dan bermerk walet, mulai percaya diri rendro beralih ke rumah itu dan mulai mengetuknya.
Suara lebih berwibawa
"Assalamualaikuum" tiga kali
terdengar suara lembut dan dibarengi bunyi gesekan engsel pintu
"Walaikumsallam" ngeeeeeeeeekkkk
Aah,ternyata itu qori,dengan jilbab berwarna pink,dan baju lengan panjang yang ketat dan membentuk payudaranya,dan rok panjangnya yang sedikit basah karna habis menjemur pakaian di belakang yang meyebabkan terbentuknya garis-garis celana dalam di pantatnya.
Sambil tercengang Rendro berkata
"Aaaaaaah si neng cantik dan seksi sekali'
Qori berkata dan memperlsilahkan masuk Rendro
"Iiiiiiiiiiihhhh aa"
Waktu semakin siang dan matahari mulai tepat sejajar di atas kepala, qori membawakan minuman untuk Rendro, rumahnya sepi karna ibu qori sedang pergi ke pasar untuk membeli beberapa bahan sandang dan pangan, perbincangan terus berlanjut layaknya pasangan muda mudi semua diperbincangkan dari masalah fisik sendiri hingga gosip anaknya pak lurah suka menyodomi sapi, suasana mulai membosankan seiring matahari mulai bergerak dan berilndung di kanopi pepohonan pedesaan. Rendro mengajak Qori keluar rumah untuk berjalan mengelilingi desa, qori menyanggupinya mulai keluar mengunci pintunya dan kuncinya di taruh di lubang angin di atas kusen pintu sambil dibungkus kertas bertuliskan "neng maen heula bu, sembari ngurek belut di sawah bi eha"(neng main dulu bu,sambil mancing belut di sawah bi eha).
Pembaca bertanya tanya...? kenapa Rendro menyukai si Qori....? nggak bertanya juga ga apa-apa !. pernah ada isu di desa qori adalah wanita soleh yang sudah tidak perawan, tetapi bukan oleh manusia melainkan oleh jok sepedahnya sendiri, iya, Anunya si qori di tusuk oleh ujung jok sepedahnya sendiri dan qori merasa kesakitan dan menikmatinya, bukan karna joknya bisa bergerak sendiri melainkan kala itu qori sedang bersepeda didepanya ada batu cukup besar, rem sepedahnya blong, pantat qori segera turun dari jok, tetapi karna qori memakai rok yang lebar sehingga menaiki sepedahnya harus memasuki joknya kedalam rok dan tepat dikala itu qori tidak memakai celana dalam sehinga memudahkan ujung jok masuk ke vaginanya. sepeda menabrak batu dan bergeser setelah kaki qori sudah menyentuh tanah, sehingga terjadi pergerakan dahsyat sepedah yang berujung ujung sepedah masuk ke vagina qori, qori teriak dengan kerasnya di tengah pematang sawah dikala itu tidak terlihat dari sudut manapun kecuali top angle, Mang Wawan yang sedang mancing belut sambil tengkurep karna seriusnya terkaget kaget dan penasaran siapa yang teriak, mendangahkan kepalanya diantara sawah-sawah yang hijau dan melihat dari kejauhan terlihat qori yang tadinya teriak malah mendesah kenikmatan sambil menggesekgesekan vaginanya ke jok sepedah, terlihat keadaan mulai aneh .
Mang wawan pura-pura batuk
"ekhem ekhem uhuuuk uhuuuk uweeeeek"
Qori kaget dan melihat mang wawan dan cepat-cepat kabur
"saha eta? waduuh hulu belut gede muncul ti sawah"
(siapa itu? waduuh kepala belut besar muncul dari sawah)
Qori langsung mengambil jurus seribu langkah dengan sepedahnya, dan darah keperawanan qori sudah mengotri roknya yang besar, tapi.... yasudahlah itu hanyalah isu dari mang wawan, pembaca jangan terlalu terbawa!, Atas dasar sayang menyebabkan Rendro penasaran sekali ingin mencoba keperawanan qori dan membantah isu tersebut
Beberapa menit mereka berjalan-jalan Rendro menuntun Qori untuk masuk ke hutan, di hutan dekat desa tersebut masih banyak hewan liar yang berhabitat di situ karna itu terlihat jarang sekali manusia yang berani masuk hal itu dimanfaatkan Rendro untuk mengetes keperawanan Qori. Rendro menunjuk Batu besar di tengah hutan untuk mereka beristirahat dibalik batu tersebut. Pembicaraan intim sepasang kekasih yang baru memulai keintimannya, berawal dari pegangan tangan hingga tangan Rendro mulai masuk ke dalam kaos lengan panjang yang ketat milik qori. Wajah qori terlihat malu-malu tapi mau tanpa di relai qori rendro mulai menguasai area payudara qori tetapi beberapa saat kemudian rendro terkaget sambil tangannya masih menyangkut di kutang qori
rendro berkata
"neng pentilnya tiga yah ?"
Qori tersipu malu sambil berkata
"bukan aa itu tai lalat diantara gunung namanya hehehehe"
Alih-alih penasaran rendro meminta qori membuka bajunya dan memang itu adalah tai lalat. Kepalang tanggung rendro melanjuti dengan menjilati pentilnya dan mulai merambah kebagian bawah milik qori, qori nampak malu tapi mau karna sepertinya sudah yakin akan kenikmatan yang akan di dapat,dan darisitulah rendro tidak bisa membantah isu mang wawan ia kecewa tapi menikmati, mukanya sedih tapi masih terus menggenjot si qori, sungguh indah kisah cinta dibalik batu di tengah hutan dekat desa.
Diwaktu yang sama langit sudah menguning, ibunya qori sudah pulang dari pasar nampak panik melihat rumah tak ada orang di sore hari, ibunya melihat gumpalan kertas membungkus kunci di lubang angin di atas kusen pintu di dekatnya ada spidol hitam, ia mengambil ketas itu dan mengeluarkan kuncinya dan membacanya dengan ekspresi yang datar dia membalas pemberitahuan qory dibalik kertasnya "he'eh teu nanaon, awas mun ngurek belut lalaki !" (iya ga papa, awas kalo mancing belut lelaki). lalu ia masuk ke rumah mengambil lakban dan menempelkan kertas tersebut di depan pintu.
Penulis: Bismo Prades

No comments:
Post a Comment