Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Ah-Ah-Ah

=======================
Cerita 15
AH-AH-AH
Jakarta, Rabu, 12 Maret 2014
penulis: Rendro Aryo Hutomo
==========================

Di jalanan yang ramai dan penuh dengan hiruk-pikuk orang-orang. Ada yang berbeda. Peter Anderson nama itu tercantum di kartu nama yang ditempelkan seseorang di saku kemeja diantara buah dadanya yang menonjol. Orang-orang bingung melihatnya karena dia seorang perempuan berparas korea yang berjalan dengan kemeja dan hanya menggunakan sempak di tengah manusia yang lagi berlibur di areal Monas. Orang-orang berbisik, melirik, memberi tanda sinting dengan jari telunjuk. Karena tiba-tiba perempuan itu berteriak “ah, ah, ah” terangsang akan sesuatu. Suara itu semakin menguat, menggema ke berbagai penjuru monas. Sampai bangunan monas bergetar dan retak, retak dan emas kuning di puncak monas roboh jatuh ke bawah. Gubrak. Suasana heboh.
Para petugas keamanan mulai mengejar perempuan itu yang tetap bersuara “ah-ah-ah”. Mulai semakin mengganggu sekitar. Suara itu membuat para penjual dagangan menari hula-hula tarian ala hawai. Absurd. Orang-orang yang kesal marah berkata “lonte”, “perek”, “pelacur”, “iblis”. Ratusan manusia itu berkerubung mencoba mendekati, menangkap si perempuan misterius ini. Tapi apalah daya mereka malah ikut menari hula-hula.
Orang-orang yang melihat kejadian aneh itu kabur ketakutan dan hanya satu orang yang tetap diam ditempatnya dia langsung berbicara monolog , bukan suara hati, berbicara diantara ribuan orang yang panik dan kabur dari areal monas.
“Nama asli saya Peter Anderson, saya jurnalis, umur saya 32 tahun, saya punya istri di rumah, entah dia kesurupan mahluk apa, tapi kini dia di depan saya bersuara ah-ah-ah itu, bagaimana saya menghentikannya, saya tidak mau merekam hal ini, saya tidak mau dua anak saya di rumah melihat Ibu mereka menjadi sinting seperti ini, apa yang harus saya lakukan”.
Orang-orang yang kabur mendekati Peter Anderson yang asli mengajaknya lari dari situ.
“Kabur”
“Lari”
“Ayo”
“Jangan Disini”

Peter Anderson tak menggubris, terus berjalan, bahunya menabrak orang-orang dan suasana gaduh itu mulai berkurang. Peter Anderson mencoba mendekati istrinya, mengelus pipinya, rambutnya, bibirnya. Peter mulai angkat bicara.
“Ayo pulang”
“Ah, ah, ah”
“Pulang Windi”
“Ah, ah, ah”

Peter Anderson menampar istrinya Windi. Istrinya terdiam sebentar lalu bicara “ah-ah-ah” lagi. Peter Anderson meneteskan setetes air mata dengan sangat pelan. Lalu Peter mencoba menutup mulut Windi. Suara “ah-ah-ah”nya jadi samar. Orang yang berjoget Hula-Hula mulai berhenti. Peter merengut melihat sekitarnya. Orang-orang yang joget Hula-Hula itu seolah tak ingat apa-apa. Dan Peter mendekap Windi memaksanya pergi dari monas. END.
·        31287561

Penulis: Rendro Aryo Hutomo


No comments:

Post a Comment

Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB