Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Senja Permanen

Senja Permanen

Linda. nama itu akan terngiang lama di pikiran Yono. Hari ini adalah hari terakhir Yono berduaan dengan perempuan itu. Sebelum mereka akan berpisah untuk bertemu entah kapan lagi. Dua insan manusia ini disatukan oleh kisah-kisah klise seperti di sinetron dan serial televisi. Kisah kehidupan mereka pun biasa-biasa saja. Tak ada yang luar biasa di dalamnya. Sampai pada hari terakhir ini terjadi kejadian tak terduga bukan hanya pada mereka berdua. Tapi pada umat manusia sedunia.

Ilustrasi foto senja diakses dari https://citography.files.wordpress.com/2010/08/copy-of-img_0317.jpg
Heboh di setiap televisi. Di warung-warung, di gedung-gedung perkantoran, di koridor-koridor rumah sakit dan di ruang tamu keluarga diberitakan bahwa bumi berhenti berputar.Tak ada yang tahu itu pertanda kiamat atau apa. Tapi berhentinya bumi berputar, membuat waktu demi waktu yang dilewati oleh Yono dan Linda menjadi begitu berkesan. Di desa mereka, matahari konstan terus berada di senja. Di setiap mata memandang siluet mentari hampir terbenam akan selalu kelihatan. Yono mengayuh sepeda membonceng Linda melewati dermaga persis layaknya video-video klip jaman dulu. Mereka berdua duduk di dermaga melihat senja abadi di ujung laut. Tak sepatah kata terucap dari mulut mereka. Suara hati dalam diri mereka pun tak berkoar. Suasana begitu sunyi, hanya burung-burung flamingo yang beterbangan. Dalam lubuk hati dua anak muda itu. Mereka berharap momen itu bisa dikunci. Direkam dan diputar kembali seumur hidup mereka. Monoton memang, tapi tak apa. Asal mereka selalu berdua menatap senja.

Gejolak

Gejolak
Cileungsi, 21 Januari 2015
Ditulis Rabu Dini Hari
Penulis: Wawan P Sirait
Judul: Gejolak

Malam itu tiba-tiba berubah jadi panas. Luapan jiwa yang tak henti-hentinya memuncak hingga diatas rata-rata. Semua orang seperti sampah yang tidak berharga, bahkan ketika aku melihat balita cengeng dan banyak tingkahpun rasanya naluri buasku selalu mendorong untuk memukul kepalanya hingga pecah berkeping-keping. Entah gejolak apa yang aku rasakan saat ini. Arrrggghh… aku benci sekali sama balita kecil itu. Dilehernya melingkar sebuah kalung emas, Ditelinganya tersisip anting-anting yang digilai semua orang, belum lagi yang terselip jari manis balita itu. Aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan ratu kecil dungu. Dia dengan enaknya tidur diantara pantat-pantat orang dewasa dengan terlentang, mengalahkan semua orang sekitarnya. Ingin aku membunuhnya agar dia lebih bisa berbagi dengan orang lain. Dengan alasan masih balita bukan berarti harus merajai semuanya bukan? Aku pikir kau adalah iblis yang menjelma menjadi seorang balita berbadan putih bersih namun wajahmu selalu bikin orang lain ingin menikammu. Ratu kecil dungu titisan iblis itu berlindung dibalik ketiak orang dewasa, mencoba mengecohkan perhatian orang-orang sekitar gerbong. Ya lebih tepatnya deretan gerbong kereta yang kami tumpangi. Kereta si kecil ratu dungu.
Sumber ilustrasi djarotsuseno<dot>blogspot<dot>com


Ada apa dengan ini semua? Aku ingin menyembelih orang yang barusan saja dengan seenaknya menyenggol pundakku. Dia seperti  menantangku untuk berkelahi. Ditambah suara bising yang sulit aku kendalikan. Diam kalian semua!!! Kalian maju kehadapanku lawan aku dengan semua kemampuan kalian!!! Aku ingin berkelahi dengan kalian semua…  
Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB