Banyak
orang yang takut bahkan jijik dengan hewan yang satu ini yaitu kecoak. Mereka
selalu berburu atau membasmi kecoak-kecoak itu, tapi itu semua belum tentu
seperti yang manusia bayangkan.
Disuatu
daerah tinggalah seorang putri yang cantik dan jelita, akan tetapi ia selalu terlihat murung.
Didekatnya ada sekeluarga kecoak yang baru saja mempunyai anak bernama TANK.
Dia sangat periang dan berlari-lari kesana kemari hingga orang tuanya sangatlah
bingung. Mereka tinggal didekat gerombolan semut dan banyak sekali anak-anak
semut. Tank pun berlari terus hingga dia bertemu satu anak semut yang terpisah
dari rombongan. Semut itu terus menerus mengeluhkan hidupnya. Tank
mengejutkannya dan semut itu pun kaget serta nyaris saja terjatuh. Semut kaget
dan terheran dengan kelakuan si kecoak. Tank memperkenalkan dirinya pada semut
dan meminta maaf atas perbuatannya tadi. Tank berusaha menghibur semut agar tak
murung dan bersedih, Semut malah mengusir Tank agar jangan mengganggunya. Tank
pun heran dan bertanya kenapa Semut murung hingga Tank pun tak banyak
bertingkah. Semut akhirnya bercerita alasanya kenapa ia murung karena banyak saudara dan teman-temannya yang mati. Dia benci manusia, kenapa harus membunuh
kami? Semut itu bercerita
sambil mengenalkan dirinya bernama SMUT. Tank sangat bingung dan ia malahan
berkata bisa kok jadi binatang peliharaan yang disayang manusia. Smut tak
percaya,”mana mungkin binatang kecil seperti kita bisa menjadi binatang
peliharaan.”
Smut
pun bingung sedangkan Tank asik berpikir hingga muncul ide konyolnya bagaimana
kalau kita ke kota lihat-lihat hewan peliharaan. Iya, mereka pun menyutujuinya
di Istana Putri banyak sekali capung beterbangan bagus sekali dan ternyata
capung-capung itu kendaraan bagi serangga yang lainnya yang lebih kecil dari
capung itu. Ada semut yang menaiki, kutu dan beberapa hanya bertukar pikiran di
terminal capung. Tank pun memesan capung itu yang bernama Dago buat
mengantarnya ke kota dan berkeliling. Tank melihat kota yang tersusun rapih dan
melihat berbagai macam orang. Pertama kali yang Tank dan Smut lihat adalah
anjing. Anjing itu mampu mengambil koran dan memberikan ke Tuannya. Anjing itu
dapat bermain-main dengan majikkannya, merebut bola, menggong-gong, menurut
dan mengerti yang dibicarakan manusia. Anjing itu sangat penurut seperti kerbau
yang dicucuk hidungnya. Tank dan Smut memperhatikan itu semua sambil terus
berpikir. Selanjutnya mereka melihat kucing yang sangat manis dan berbulu bagus
sekali. Sungguh sangat lucu ketika kucing itu bermain bola, mengejar bulu-bulu,
berguling-guling dan tuannya tertawa. Kucing itu layaknya bayi yang memerah
entah tersenyum atau menangis dia tetap disayang oleh ayah dan ibunya.
Tank
mempelajari banyak hal seperti manusia dan mengamati hingga ia memikirkan apa
yang akan ia lakukan nanti bersama Smut. Tank pun kembali ke istana dan
menceritakan pengelamannya kekeluarga mereka. Tank pun menyatakan idenya dan
butuh kerja sama dengan keluarga Smut, buat menyatukan visi, Tank karena gak ada lidi yang
kuat kalau
hanya sebatang. Ide yang pertama saat koran pagi datang, matahari mulai
menelisik mata yang begitu tajam. Tank dan Semut menyuruh keluarganya untuk
memindahkan koran itu ke tuannya. mereka bahu membahu mengangkat koran itu agar
manusia-manusia itu bisa sayang ke mereka. Dengan keringat dan peluh yang
bercucuran di dahi mereka. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara teriakan
dan injakan dari pembantu yang melihatnya. Mereka semua pun kabur dan berhasil
selamat. tank terus meyakinkan keluarganya dan keluarga semut untuk terus berjuang.
Ia tak henti-hentinya ber orasi didepan mereka. Dikesempatan yang lain Tank
ingin menghibur tuan puteri yang menangis dengan bergaya lucu. Puteri pun terkejut
entah takut atau bingung dengan tingkah kecoak itu yang seperti kucing tapi
tidak lucu malah menakutkan. Ibunya Puteri melihat kecoak itu langsung histeris
dan mencari sesuatu untuk memukul kecoak itu. Tank pun pergi meninggalkan
mereka. Dia menemui Smut yang sudah menyerah dengan semua ini. Tank tak bisa
terima itu, dia yakin kita bisa merubah itu semua. Hingga ia dan Smut melihat
selebaran pesta yang akan digelar puteri. tikus,
cicak, dan kucing mengetahui itu termasuk Tank dan Smut.
Smut pun
memimpin pasukannya untuk menggenggam stick pemukul untuk memukul tikus-tikus
itu sedangkan pangeran memukuli tikus, dan kucing yang menyerangnya serta cicak
yang berjatuhan. Cicak-cicak itu bersihkan oleh koloni Tank dan dibuang keluar
rumah. Tikus-tikus itu pun banyak yang tunggang langgang meninggalkan tempat
pesta karna kalah oleh semut. Dua kawan Black Tiger dimusnahkan berkat kerja
sama semut dan kecoak. Semut dan kecoak itu sangat bahagia melindungi manusia
saat cicak melempar tainya, kecoak-kecoak itu menangkap dan melempar balik
dengan tai tersebut. Dua kawan Black tiger pun menyerah dan berhasil di ikat
oleh rombongan semut dan kecoak. Hanya tersisa Black tiger yang berhadapan
dengan Tank & Smut. Dia sangat kuat hingga ia berhasil dilumpuhkan berkat
kerja sama pangeran. Tank pun mencabut kumisnya, dan semut berteriak digendang
telinga black tiger agar dia pusing serta lemas. Black dan kawan-kawannya pun
kabur dari tempat pesta itu karna manusia mulai melakukan perlawanan. Tank
& Smut malah merapihkan barisan seperti prajurit yang sudah menyelesaikan
perintah dan kembali dari perang. mereka tak lari dan berpindah dari tempat itu.
Banyak manusia yang masih ketakutan dan ingin membunuh mereka tapi ditahan oleh
pangeran mengangkat Tank dan Smut yang seolah berbicara pada Pangeran. Tank
melupakan satu hal yaitu cincin puteri yang akhirnya terbang mengambil cincin
yang berada dibawah lemari untuk pangeran. Pangeran pun melanjutkan
tunangannya. Tapi Ibu puteri mengusir kecoak dan semut. Mereka pun kembali ke
sarangnya dengan perasaan yang sedih menerima kenyataan. Akan tetapi impian
Tank dan semut pun tercapai menjadi binatang peliharaan pangeran dan puteri
sekaligus prajurit bayangan di kastil pernikahannya. Tank berhasil menahan
nyamuk yang mau menggigit mereka dikasur. Semut menjadi prajurit bawah tanah
yang hebat.
THE END
Penulis asal Bekasi
Penulis: Samsul Arifin
Judul: Tank & Smut



No comments:
Post a Comment