Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Perempuan Pemecah Keheningan Pagi


Cerita 10
Perempuan Pemecah Keheningan Pagi
Semarang, 11 Desember 2013



Hari masih begitu dini, saat Rendro mengerjapkan mata, menyudahi tidur panjangnya. Ada pening yang teramat sangat terhujam di kepalanya. Pergelangan tangannya pun terasa pedih, luka bekas sayatan yang ia sengaja, belum sembuh benar. Lelaki di medio dua puluhan itu mencoba menerka-nerka, berapa lama ia tertidur seperti pingsan, namun otaknya tidak memberi jawaban.
04 : 17.
Rendro beringsut perlahan. Ia yakin benar, sepetak ruang ini adalah kamar kosnya. Tangannya mencari-cari handphone, yang biasanya tergeletak di atas tape deck peninggalan masa remajanya. Seharusnya ada banyak panggilan tak terjawab atau beberapa pesan singkat disana. Bukankah ia telah menghilang tanpa kabar cukup lama? Ia berharap ada satu dua orang yang merasa kehilangan atau paling tidak, bosnya akan mencaci makinya dengan kata-kata kasar, karena ia mangkir dari pekerjaan tanpa keterangan.
Sayangnya tidak. Tidak satupun panggilan atau pesan singkat diterima handphone-nya. Satu-satunya notifikasi hanya peringatan bahwa baterei telah melemah. Rendro tersenyum kecut. Kekecewaan ditelannya bulat-bulat.
Kumandang adzan Subuh. Rendro pun terkesiap, kesadarannya mulai terbangun utuh.
Betapa buruk rangkaian hari-harinya belakangan. Diagnosis HIV dari dokter perusahaan yang begitu tiba-tiba diterima, ketika ia hanya berniat melakukan general check up.
Bagi Rendro, saat itu maut telah menyampaikan pesan kematian,
“ Tidak lama lagi, Anak muda ! “.
Bapak murka. Lelaki senja yang biasanya tak banyak bicara itu, mendadak berkata-kata dengan nada tinggi dan penuh emosi. Ibu menangis tanpa henti dan memperlakukan Rendro seperti makhluk nista. Jangankan memeluk, menguatkan anak laki-lakinya, melihatnya saja enggan. Teman-teman kantor yang biasanya hangat dan penuh canda, tiba-tiba dingin dan memicing sinis.
Begitu pula Kara, perempuan cantik yang sudah 2 tahun menjadi kekasihnya, hilang entah kemana.
“ Kara, aku rindu .. “, Rendro memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat melalui handphone-nya. Raganya sudah sakit dan rindu membuat hatinya kian sakit.
Terkirim.
Dan tidak ada balasan.
Rendro menatap handphone lawasnya dengan nanar. Dadanya sesak, tenggorokannya sakit, matanya berair. Ia menangis. Terisak-isak.
Kepalanya tertelangkup di antara dua lutut yang tertekuk. Bahunya naik turun mengikuti irama tangis yang mengiris. Harusnya ia iyakan saja bisikan setan untuk melanjutkan sayatan di pergelangan tangan. Apa bedanya nanti dan sekarang ? Toh sama-sama akan mati. Bedanya, mati nanti karena HIV, mati sekarang karena bunuh diri.
“ Ndro .. “.
Kepala Rendro terangkat. Ada suara yang memanggil namanya, pun beberapa kali ketukan perlahan di sela-selanya.
“ Ndro, gue tahu lo ada di dalam. Buka pintunya ya .. “.
Rana. Itu suara Rana. Ah, bagaimana bisa ia melupakan sahabat yang terlalu setia itu. Ya, Rana tidak pernah meninggalkannya, meski 2 tahun belakangan Rendro hanya datang ketika hubungannya dengan Kara bermasalah.
Rendro terhuyung-huyung berdiri, mengarah membuka pintu.
Benar. Sosok Rana tegak berdiri disana. Sosok yang sama dengan yang ia kenal di taman kota nyaris 1 dasawarsa yang lalu. Sosok yang selalu bersedia berbagi senyum dan penghiburan, seburuk apapun kondisinya. Sosok yang ia labeli sebagai sahabat paling setia.
Sedetik kemudian, tubuh Rendro yang biasanya kokoh menyerah di pelukan Rana yang hangat. Tangisnya berlanjut, ia tak lagi peduli terlihat rapuh.
“ Gue ngga pernah nyangka lo sebegitu tolol, Ndro. Ngilang, nyoba bunuh diri. Lo pikir kaya gitu itu cool ? Keren ? “.
“ Gue kena HIV, Na. Gue bakal mati .. “.
“ Lo pikir gue ga bakal mati, karena gue ga kena HIV ?! “.
Rana memeriksa pergelangan tangan Rendro yang terbalut kain seadanya. Bercak merah darah membeku disana.
“ Lo ga jijik ma gue, Na ? Lo ga ngeri bakal ketularan ? “.
“ Percuma lo ngaku anak jenius di kelas IPA dulu, Ndro .. “, lalu ada tawa renyah khas Rana memecah keheningan pagi di kamar kos Rendro.
“ Gue kudu gimana, Na ? Gue bingung .. “.
Perempuan berpostur mungil itu mengedikkan bahu,
“ Gue juga belom tahu, Ndro. Tapi gue punya 1 berita bagus buat lo .. “, ia meringis, hingga deretan gigi putihnya terlihat segaris.
Rendro mengernyitkan kening, ia pikir, manusia sepertinya sudah tidak berhak lagi mendapatkan hal baik dalam bentuk apapun.
“ Gini, Ndro, gue bakalan selalu ada buat lo. Dulu, sekarang dan nanti .. “, sebuah senyuman tulus terkembang di wajah Rana.
Bagi Rendro, sungguh itu telah lebih dari cukup.

***

Penulis : Nur Azizah Eka Wardhani

Kucing Hitam

Cerita 9
Kucing Hitam
Jakarta 9 Desember 2013



           Rendro berlari disebuah gang sempit setelah melihat temannya aling yang OD di wc umum, pada awalnya rendro ingin memesan ektasi untuk menenangkan dirinya yang panik karena sesuatu hal tetapi ia malah mendapati temannya tersebut terkapar, ia pun mengeledahi kantung di setiap baju dan celana tetapi rendro hanya menemukan telepon genggam, ia pun langsung menghapus panggilan darinya


            Rendro terlihat sangat pucat sambil memegang tangan kirinya yang dipenuhi dengan bekas tusukan jarum suntik, dijalan rendro berpapasan dengan Mumuh yang sedang berkelahi dengan saling memaki kepada temannya di atasnya tampak seorang ibu yang sedang menjemur geram seperti ingin menyiram mumuh dengan air di ember cuciannya, mumu terlihat menaruh curiga kepada rendro, karena gelagak rendro yang aneh, tidak lama rendro berhenti untuk menghela nafas tiba-tiba seekor kucing hitam menghampiri rendro, rendro pun mengusir kucing itu dan berlari menuju seorang balita yang sedang bermain, kucing itu di elus-elus oleh si balita, dan tidak lama dengan polosnya si balita memasukan tangannya sendiri kemulutnya

            Kini rendro duduk di kamar mandi menangis karena sudah menyerah akan keadaannya, ia tampak begitu gelisah dan pasrah, lalu dia menyumbat pembuangan air, dia menulis disebuah kertas "HATI-HATI SAYA TERKENA HIV" Rendro ingin mengakhiri hidupnya dan tidak ingin siapa pun tertular HIV yang di deritanya, Ia berjalan membuka pintu kamar mandi agar mayatnya mudah untuk di temukan, lalu rendro menyayat pergelangan tangannya dan berjalan mundur sempoyongan untuk duduk di WC, darah mengucur membasahi lantai, terkulai lemas Rendro duduk di WC tersebut, keadaan sangat sunyi, matanya berkedip perlahan, inilah saatnya pergi dengan damai, rendro memejamkam matanya, keadaan menjadi gelap dan tenang, tetapi tiba-tiba, "Bruugg" terdengar suara sesuatu yang jatuh, Rendro pun membuka matanya dengan perlahan, terlihat seekor kucing hitam terjatuh dari atap ke lantai yang dipenuhi darah, itu adalah kucing hitam yang ia usirnya tadi, kucing itu pun berlari keluar dengan darah rendro yang bersimbahan di tubuhnya, Rendro yang masih dalam keadaan setengah sadar, membayangkan jika kucing itu bertemu dengan si balita lalu si balita mengelus si kucing yang berlumuran darah itu dan memasukan tangannya, ia akan tertular HIV. Mata rendro terbuka lebar, ia ketakutan dan berusaha berdiri untuk mengejar si kucing, terlihat si kucing beraada di atap rumah, Rendro pun langsung melempar kucing itu dengan sandal sehingga kucing itu terjatuh dengan keras ke tanah, sedikit terkejut rendro melihat kucing tersebut terjatuh, tetapi ada hal yang membuatnya sangat terkejut adalah ketika rendro berlari menuju kucing tersebut, si kucing langsung berdiri dan berlari dengan cepat seolah-olah tidak terjadi apa-apa, rendro pun langsung mengejarnya, tetapi sebelumnya dia mencari perban untuk tangannya.

            Rendro pun melanjutkan pencarianya, kembali ternyata kucing tersebut berada di atap rumah berjalan dengan percaya diri, rendro pun memutuskan untuk naik ke atap, dengan menggunakan tangga kayu yang sudah reot, ketika rendro menarik anak tangga yang paling atas, anak tangga tersebut lepas sehingga rendro kehilangan keseimbangannya dan terjatuh, sehingga kepala rendro terbentur dan berdarah, tubuhnya terbaring lemas, ia menatap kelangit, dalam hatinya berkata "satu lagi luka yang tidak akan pernah hilang". rendro pun memejamkan matanya, tampak tenang dan semua menjadi gelap, terdengar suara kucing memanggil dengan lembut, rendro pun membuka matanya, semuanya tampak berbayang dan tidak jelas, kucing hitam itu berdiri di atap memandangi rendro sambil memanggil rendro dengan lembut, rendro membayangkan kucing tersebut jatuh tadi dan balita yang menangis akibat tertular HIV, rendro pun berkata "Kenapa dia kembali ke atap padahal dia sudah terjatuh dengan keras, seperti tidak ada sesuatu yang terjadi?", rendro menutup matanya dengan perlahan, "Mungkin, Karena mereka memilki 9 nyawa", semuanya menjadi gelap, suara detak jantung yang kencang perlahan memelan "Atau mungkin.."

            Sebidang tanah digali menggunakan pacul, Rendro menggali tanah untuk menutup darahnya "Atau mungkin, karena mereka selalu kembali berdiri ketika terjatuh", rendro menatap ke arah kucing tersebut "Tidak seharusnya aku menyerah, karena tidak ada satupun orang yang tahu didepan akan terjadi apa!", rendro berjalan, matanya penuh ambisi, sambil berkata dalam hatinya "HIV hanya sebuah virus yang baru hidup di tubuh ku, sedangkan jiwa ini sudah hidup di tubuhku sejak aku masih dalam kandungan, akan ku tunjukan pada virus itu bahwa dia menempati tubuh yang salah! dan juga akan ku tunjukan pada barang haram itu bahwa dia mempengaruhi orang yang salah!",  rendro kembali mengejar si kucing yang semakin dekat menuju si balita, begitu juga rendro yang sempoyongan semakin dekat dengan kucing tersebut, dengan optimis rendro semakin dekat dengan si kucing, tangannya sudah hampir menangkap si kucing tetapi tiba-tiba mumuh menarik rendro dari belakang, dan mendorong-dorong rendro dengan kesal sambil bertanya banyak hal tentang apa yang terjadi pada aling di wc umum, rendro yang berusaha melepaskan diri untuk meraih si kucing terus dihalau oleh mumuh, kucing tersebut berjalan menuju si balita dengan santai, sedangkan rendro berusaha keras menjelaskan kepada mumuh dengan kondisi rendro yang lemas, si balita itu pun mengelus-ngelus si kucing, dan darah terlihat di jari si balita, rendro mencoba memberontak dan berlari untuk menolong si balita, tetapi mumuh terus menarik rendro, rendro terlihat sudah menyerah ketika si balita hendak memasukan tangan ke mulutnya, dalam hati, rendro berkata "Sungguh, sekarang aku tidak percaya pada keajaiban!" tiba-tiba seorang ibu-ibu menyiram air kepada mumuh dan rendro karena merasa terganggu dengan ocehan mumuh yang menimbulkan kegaduhan, si balita pun terhenti dan tampak gembira melihat genangan air, lalu menepuk-nepukan tangannya ke air tersebut, tanpa basa-basi mumuh kabur meninggalkan rendro karena ketakuan, rendro pun langsung berdiri dan membersihkan tangan si bayi sambil meneteskan air mata ia terbata-bata berkata "Tidak, aku percaya Keajaiban itu masih ada!", sementara itu tidak jauh  si kucing hitam pun bertemu dengan majikannya dan di bersihkan oleh majikannya tersebut. dan rendro pun bertekad menjalankan terus hidupnya!

~ Tamat ~
Ditulis Oleh IHSAN FADLI

Dini Hari Itu Anjing

Cerita 8
Dini hari Itu Anjing
Jakarta, 07 Desember 2013

Dini hari bagi sebagian manusia adalah saat dimana mencapai puncak dari segala kepulasan  tidur. Hal ini berbeda dengan Rendro seorang anak keturunan Tionghoa yang dibesarkan di Sumatera. Bagi Rendro dini hari merpakan waktu yang tepat untuk memohon kepada sang kuasa. Ini sudah jadi rutinitasnya sejak dia memasuki masa pubertas.
Saat itu Rendro kembali terbangun dan melakukan rutinitasnya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dia memohon ampun dan berdo’a. sampai suatu saat menjelang fajar, Rendro berdo’a ingin pergi ke suatu tempat dimana hanya ada keindahan dan kedamaian. Dia memejamkan matanya dan berkomunikasi dengan bahasa batin. Rasa dingin tiba-tiba terasa dari ubun-ubun, pangkal pantat hingga jempol kaki. Rendro berusahan membuka matanya namun sia-sia, hingga pada akhirnya tanpa diinginkan Rendro tubuhnya semakin terasa dingin dan tercium wangi bunga melati yang menusuk hidung. Rendro ingin melawan bau itu namun tiba-tiba saja dunia lenyap seketika. Tubuh Rendro pun lenyap seperti partikel hingga tidak terlihat sedikitpun.
Anjing gw cerita apaan ya??????? Tokoh utama gw modar duluan… Udahan dulu ah…
TAMAT.

Silahkan Dilanjutkan….





Penulis: Wawan P. Sirait

Cintaku


Cerita 7
CINTAKU
Jakarta, 04 Desember 2013



Hari demi hari semakin membuat penghuni kontrakan bimbang semakin dewasa. kontrakan sempat berduka atas keluarnya dua penghuni yakni fariz dan bimar. Mereka terpaksa keluar dari kontrakan karena ingin dan harus menikah dengan wanita yang mereka pilih. Fariz menikah dengan Reny tinggal disebuah apartemen mewah hasil manggung selama ini, jelas saja Fariz seorang penari latar terkenal di ibu kota sedangkan Reny adalah penyanyi gerobak dorong yang tiba-tiba naik daun menjadi artis ibu kota. Sementara itu, Bimar menikah dengan Nina seorang gadis Bandung keturunan tionghoa, mereka buka usaha mebel di Bandung.

Semenjak kehilangan kontrakan bimbang tiba-tiba kembali dihinggapi angin segar sejak kedatangan Rondhel yang kembali dari Jogja. Rondhel is back. Tidak hanya itu, kini ditambah warna baru dengan gabungnya Sueb ke kontrakan. Kita menjalani kehidupan kontrakan mengalir sekehendak hati. Prinsip kami adalah ingin menjadi manusia bebas yang tidak mengganggu hak orang lain. Setiap hari membuat membuat film, video-video enggak jelas, cerita-cerita, dan masih banyak lagi. Tidak ada jarak diantara kita, bahkan kita sering cerita tentang aib masing-masing ke penghuni kontrakan bimbang. Seperti Samsul yang suka bercerita tentang adiknya bernama Sukron yang suka melawan sama orang tua, aling yang suka bertengkar dengan bapaknya, ihsan yang suka onani didalam mimpi, Bismo yang mengaku keturunan jawara dari kakeknya, dan sebagainya.

 Kehidupan monoton kontrakan tiba-tiba menjadi heboh akibat kejadian pada suatu malam yang dingin, dalam keadaan mati lampu dipenuhi nyamuk pengigit paha, kaki, tangan, bahkan ‘dedek’. Rondel menjerit kesakitan di ruang belakang, semua heboh lari ke belakang dan menyaksikan fenomena yang luar biasa. Sueb memasukan senjata tumpulnya ke lubang suci Rondhel yang sudah dipenuhi darah hangat. Setelah sekian lama baru kali ini terungkap bahwa Sueb adalah lelaki homo yang mencintai Rondhel dengan sepenuh jiwa dan raga. Bagi Sueb jenis kelamin tidak penting, yang terpenting adalah kasih sayang. Pantas saja selama ini Rondhel dan Sueb suka makan bersama di warteg kesayangan. Kadang-kadang mereka saling menyuapi satu sama lainnya. Cintaku… (Fiktif)



Pengarang: Wawan P. Sirait

Atap Rumah


Cerita ke 6
Jakarta, 06 Desember 2013
Atap Rumah

Cerita ini sudah lama sekali terjadi. Bermula dari atap yang dimiliki kontrak bimbang yang masih bagus. Setiap orang yang ada disini sangatlah senang duduk diatap. Salah satunya wawan dan mumuh. Wawan selalu cerita mempunyai cita-cita setinggi bintang sedangkan mumuh hanya bilang cita-citaku sependek rambut tuyul yang tipis. Wawan bingung dan penasaran siapa yang bisa menggapai cita-citanya. Wawan pun berusaha sekuat tenaga untuk menggapai cita-citanya sedangkan mumuh bersantai-santai dan bernyanyi di atap. Wawan sebel melihat mumuh yang seperti itu dia tak mempedulikannya. Mumuh pun tetap diatap rumah dan mulai berpikir. Wawan salut juga sama mumuh ternyata bisa serius juga. Dan ternyata mumuh bukannya serius buat ngejar impiannya melainkan menghitung hutangnya dan menanyakan ke wawan hutangnya. Wawan tak ingat yang membuat wawan makin pusing.

Akhirnya wawan bisa mengawali karirnya dari talent coordinator pemain, sedangkan mumuh tiduran dan bersantai hanya melihat wawan pulang. Wawan makin benci dan dia berusaha lebih keras lagi agar dia bisa menggapai cita-citanya menjadi sutradara hebat. Sekarang wawan sudah menjadi script cont, mumuh malahan asik makan onde-onde dan molen sambil nawarin wawan. Wawan gak mau dia malah mencari syutingan n callingan biar dia bisa jadi sutradara. Tidak tau kenapa sutradaranya mengajak wawan menjadi astrada karena astradanya ijin mau merawat sapinya dikampung habis lahiran. Wawan jadi astrada dan pulang ke kontrakan mumuh malah asik nonton film di hpnya yang smartphone. Wawan benar-benar semakin naik pitam dan akan menunjukkan bisa jadi sutradara. Beberapa hari kemudian wawan memang masih jadi astrada. Ketika menjelang syuting sutradara film tersebut mati. Wawanlah ditunjuk menjadi penggantinya karena akrab sama almarhum sutradara. Wawan gembira sekali bisa jadi sutradara dan pulang ngabarin mumuh diatap rumah. Mumuh sedang melihat jamnya yang nampak bagus. Wawan semakin membenci dan akan membuktikan.

Film yang dia buat pun sudah rampung yang ternyata film bokep campur horor yang sangat jelek sekali. Ditambah wawan dituding membunuh sutradara sebelumnya dan menghilangkan astrada yang sebelumnya. Filmnya pun tak laku dia pun dikejar-kejar debt collector. Wawan benar-benar bingung dan pulang ke kontrakan mumuh sedang membuka mac-nya. Wawan naik ke atap dan ceritakan ke mumuh. Wawan sudah bayar semua denda dari hasil kerja kerasnya pun belum menutupi. Mumuh dengan tenangnya bertanya berapa hutangnya. Mumuh pun langsung bayar lunas semua hutang dan dendanya wawan dengan hpnya. Wawan heran kenapa bisa banyak uang mumuh. Mumuh pun cerita disaat wawan susah dan mengikuti orang lain mumuh sedang buat perusahaan. Disaat kau jadi script aku sudah memiliki production house dan job yang semuanya dikerjakan tim. Saat kau sedang jadi astrada perusahaanku sudah berkembang dan memiliki pondasi buat memperkuat. Saat kau jadi sutradara mumuh sudah buat film yang bagus yang membuat sutradaramu mati bunuh diri karna stress dan astrada kau pindah ke perusahaan gua. Semua gua cek di atap ini dan sesekali terjun kelapangan langsung. Cita-cita gua sangatlah dekat yaitu membahagiakan orang yang terdekat dan gua sayang. Gua gak mau tinggi-tinggi cita-citanya kalau jatoh sakit. Sekarang loe jadi patner gua, gua gak mau loe stress dan tertekan.




Penulis: Samsul Arifin

Tawa Makna


Cerita Ke-5
Jakarta, 03 Desember 2013

Tawa Makna

            Jakarta 2013, Disuatu ruangan yang di penuhi coretan di dinding terdengar suara pembawa acara di televisi yang sedang memberitakan tentang  kesenjangan ekonomi, di ruangan tersebut duduk WAWAN (32 Tahun) dan anaknya RAIHAN (7 Tahun), tampak serius menonton berita tersebut, lalu Wawan memindahkan ke acara lain yaitu acara spongebob squarepant kesukaan anaknya, Raihan tampak senang menonton acara tersebut, Wawan pun ikut senang melihat raihan tampak bahagia, tidak lama muncul iklan layanan masyarakat yang menyerukan tentang 4 sehat 5 sempurna, Raihan menatap ke arah Wawan dan berkata dia lapar

            Didapur Wawan menyalakan kompor dan memasukan minyak jelantah ke dalam wajan, sambil membuka-buka buku pelajaran SD, Wawan mencari gambar daging, tempe, dan sayuran, lalu ia merobeknya dan memasukannya ke wajan, selain itu Wawan merobek juga gambar susu dan langsung merendam kertas tersebut lalu memerahnya ke dalam gelas

            Tampak bahagia Wawan dan Raihan menatap makanan di depannya, Nasi aking, Ayam kertas, tempe kertas, sayuran kertas serta susu perahan dari kertas terpajang dan siap untuk di santap, mereka pun memakan makanan tersebut dengan lahap, setelah makan Raihan berdiri dan mengankat kedua tangannya dan memperlihatkan otot-otot kecil tangannya, di jidatya terlihat sebuah kertas dengan tulisan sehat sempurna, Raihan berlari ke luar menggandeng bola dengan semangat, Wawan hanya bisa tersenyum menatap bahagia ke arah raihan tetapi tidak lama hujan turun

            Terlihat Raihan basah kuyuk berdiri berhadap-hadapan dengan Wawan yang sedang duduk memegang kepala Raihan, Wawan tampak khawatir dan melepaskan tangannya, tulisan sehat sempurna di jidat Raihan luntur, Wawan semakin khawatir

            Dikamar, Raihan terbaring lemas, disampingnya Wawan dan dukun menatap ke arah Raihan, lalu si dukun tersebut membacakan mantra-mantra dan menyemburkan air ke muka Raihan, Alhasil tulisan di jidat Raihan semakin luntur, Wawan terlihat khawatir tetapi si dukun meyakinkan Wawan dengan berkata hal itu termasuk dalam proses pemulihan, Wawan pun tampak lega

            Didepan televisi Wawan duduk sambil memangku Raihan menonton spongebob acara kesukaan Raihan, Wawan mencoba menghibur Raihan dengan tertawa terbahak-bahak agar Raihan ikut tertawa, tetapi Raihan tampak sangat tidak sehat, Wawan pun semakin khawatir kepada Raihan, suhu badannya semakin bertambah panas, Wawan menatap ke arah TV lalu menatap Raihan, wajah Wawan tampak sedih dan meneteskan air matanya, Ia lalu berdiri dan mengangkat televisi tersebut

            Terlihat obat dan resep dari dokter, Sebuah gelas penuh air di pegang Wawan untuk di berikan kepada Raihan yang sedang meminum obat, mereka kembali terlihat bahagia, terdengar suara acara televisi kesuakaan Raihan mereka pun duduk di depan televisi tersebut,  yang kini bukan televisi asli melainkan gambar televisi dalam kertas

Written By : Ihsan Fadli
Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB