Cileungsi, 21 Januari 2015
Ditulis Rabu Dini Hari
Penulis: Wawan P Sirait
Judul: Gejolak
Malam itu tiba-tiba berubah jadi panas. Luapan jiwa yang tak
henti-hentinya memuncak hingga diatas rata-rata. Semua orang seperti sampah
yang tidak berharga, bahkan ketika aku melihat balita cengeng dan banyak
tingkahpun rasanya naluri buasku selalu mendorong untuk memukul kepalanya
hingga pecah berkeping-keping. Entah gejolak apa yang aku rasakan saat ini. Arrrggghh…
aku benci sekali sama balita kecil itu. Dilehernya melingkar sebuah kalung
emas, Ditelinganya tersisip anting-anting yang digilai semua orang, belum lagi
yang terselip jari manis balita itu. Aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan
ratu kecil dungu. Dia dengan enaknya tidur diantara pantat-pantat orang dewasa
dengan terlentang, mengalahkan semua orang sekitarnya. Ingin aku membunuhnya
agar dia lebih bisa berbagi dengan orang lain. Dengan alasan masih balita bukan
berarti harus merajai semuanya bukan? Aku pikir kau adalah iblis yang menjelma
menjadi seorang balita berbadan putih bersih namun wajahmu selalu bikin orang
lain ingin menikammu. Ratu kecil dungu titisan iblis itu berlindung dibalik
ketiak orang dewasa, mencoba mengecohkan perhatian orang-orang sekitar gerbong.
Ya lebih tepatnya deretan gerbong kereta yang kami tumpangi. Kereta si kecil
ratu dungu.
Ada apa dengan ini semua? Aku ingin menyembelih orang yang
barusan saja dengan seenaknya menyenggol pundakku. Dia seperti menantangku untuk berkelahi. Ditambah suara
bising yang sulit aku kendalikan. Diam kalian semua!!! Kalian maju kehadapanku
lawan aku dengan semua kemampuan kalian!!! Aku ingin berkelahi dengan kalian
semua…