Cerita 14
Sakaratul Maut Peter Anderson
Jakarta, 12 Maret 2014
penulis: Wawan P Sirait
Hai
perkenalkan, aku temannya Rendro, Namaku Peter Anderson. Kalian pasti bertanya
kenapa namaku Peter Anderson? agak ke barat-baratan ya? sebetulnya emang iya.
Walaupun Ibuku pribumi tapi Ayahku keturunan Amerika yang tinggal di Indonesia,
tapi sekarang mereka lebih memilih tinggal di Amerika. Aku seperti anak yang
terbuang dan hidup mandiri disini. Walaupun orang tua ku selalu mengirimkan
uang namun aku tidak pernah menggunakannya. Mungkin dolar menumpuk di
rekeningku karena tiga tahun sudah aku tak menyentuhnya. Aku lebih memilih
bekerja sebagai penjaga warnet untuk membiayai kehidupanku. mungkin bagi
sebagian orang mempunyai mimpi untuk tinggal di Amerika adalah sebuah cita-cita
luhur karena hidup akan lebih baik tapi bagiku American dream adalah sebuah kebencian. Tapi bukan itu yang mau aku
ceritakan. Aku bingung mau aku mulai darimana kisahku ini yang jelas aku
seorang lelaki yang memiliki jenggot 'seuprit' sebagaimana remaja yang baru
tumbuh jenggot. aku mau menceritakan segala kegelisahan sekaligus sebuah
pertanyaan yang selalu menghantui kehidupanku yaitu KE-MATI-AN.
Sering
aku bertanya pada diri aku sediri kenapa kematian kadangkala terjadi menjelang
subuh? tentu saja aku berkata begini karena pengalamanku beberapa kali mendengar,
melihat, bahkan ‘merasakan.....’
Malam
itu tiba-tiba saja badanku demam, kepala pusing, mata berkunang-kunang dan
tentu saja badan lemas tidak karuan. aku tinggal disebuah apartemen di jakarta,
Jauh dari orang-orang yang memiliki tingkat solidaritas yang tinggi. Terjebaknya
aku didalam apartemen busuk ini tentu saja bukan tanpa alasan, sifat dasarku
yang suka menyendiri menjadi alasan utama kenapa aku berada di apartemen ini.
Kesendirian bagiku adalah sebuah ketenangan yang selalu aku impikan dari
semenjak aku kecil hingga saat ini. Pikiranku akan lebih jernih jika adanya
ketenangan, aku tidak terbiasa dengan hingar-bingar kebisingan yang memecahkan
telinga. Jika aku berada di keramaian batinku selalu menolak untuk berada
disekitar situ. Aku benci sekali area turism yang banyak dikunjungi oleh
orang-orang. Kembali ke kondisi badanku yang terserang demam, sudah dua hari
ini aku tersiksa seperti mayat hidup yang sudah tidak ada gunanya lagi.
pikiranku melayang ke pertanyaan-pertanyaan yang melintas di dalam batinku
yaitu apakah aku sebentar lagi akan merasakan sakaratul maut?
Siang
itu aku kembali bercinta dengan rasa sakit yang aku rasakan begitu menyiksa. Demamku
semakin parah padahal sudah empat hari ini aku istirahat. Aku pasrah dan
terbaring begitu saja, tanpa harapan dan putus asa tentunya. Bel apartemen
tiba-tiba berbunyi. Aku meyakinkan diriku apakah suara itu hanya mimpi? aku
kembali terdiam namun bel kedua berbunyi kembali. Aku putuskan untuk mengangkat
badanku yang berat dan sempoyongan. Rasa lemas dan letih tentu saja sirna oleh
semangat akan adanya harapan, akan ada yang menolongku disaat aku sakit seperti
ini.
Ku
buka pintu kamar apartemenku, kulihat sosok wajah yang tidak aku kenal. goresan
kulit yang tajam dan berwarna kelam menandakan orang ini pekerja keras dan
sudah berusia. Kulihat pakaiannya dan barulah aku menyadarinya bahwa dia adalah
pekerja Post Indonesia. Aku sebut dia bapak tua. Dengan senyum ramah yang tidak
aku harapkan kehadirannya dia menyodorkanku selembar kertas dan memintaku menandatanganinya.
Selesai ku tanda tangani dia memberiku sebuah paket yang tidak aku kenal dengan
nama pengirim yang aneh...
Kepada
Yth:
PETER
ANDERSON
.................................
................................
Pengirim:
NAM
SAM NAM
................................
................................
Tentu
saja aneh, surat itu dikirim tanpa alamat dan pengirim yang jelas tapi bisa
sampai tujuan. aku akan menegur bapak tua itu tapi tanpa kusadari pintu
apartemenku sudah tertutup. ku buka kembali pintu itu tapi bapak tua itu sudah
tidak berada di tampatnya. aku lirik kembali nama pengirim surat itu 'Nam Sam
Nam' siapa sebenarnya dia? Aku seperti bertanya tanpa menemukan solusi jawaban
dari pertanyaanku. Kubuka paket itu dan ternyata hanya berisi tulisan yang
tidak bisa aku baca. Dan malampun semakin larut, itu artinya aku akan merasakan
sakit kembali karena rasa sakit yang dasyat akan aku rasakan ketika malam
menjelang tidur tiba.
Disaat
menahan rasa sakit, bapak tua itu tiba-tiba muncul dihadapanku tentu saja ini membuatku
kaget. Dia mengajaku keluar apartemen dengan dibantu kursi roda. Dia tahu kalau
aku sudah tidak kuat lagi berdiri. Dia mendorong kursi rodaku menuju pintu
lift. Aku pasrah dan tidak tahu akan dibawa kemana aku ini. Lift itu tidak
turun tapi naik ke lantai atas. tepat dilantai 90 kami keluar lift dan tiba-tiba
saja badanku menjadi normal. Aku bisa berdiri dan bangkit dari kursi roda ku
dan berjalan bahkan sampai berlarian. Barulah aku sadar kalau dihadapanku
terdapat hamparan tanah yang luas dipenuhi rerumputan dan beberapa pohon dengan
buah yang menyegarkan serta mengalir sebuah sungai yang sungguh indah. Terdapat
banyak binatang yang sedang minum di sungai itu. Bapak tua mempersilahkanku
bermain dan memakan apapun yang tersedia disana sepuasnya. Aku langsung
memanjat sebuah pohon apel yang menjulang tinggi. Ketika pohon itu hendak aku
panjat, pohon itu tiba-tiba menjadi rendah dan buahnya bisa aku gapai
sepuasnya. Aku senang sekali. Aku memetik beberapa buah apel dan memasukannya
kedalam kantongku. Tentu saja aku berpikir akan kusimpan sebagai persediaan. Kumakan
satu buah apel yang sudah ku petik itu. Rasanya sungguh lezat, belum pernah aku
memakan buah apel selezat ini. Aneh semakin aneh, baru satu gigit aku memakan
buat itu tapi tiba-tiba perutku sangat kenyang, seperti setelah makan nasi 5
bungkus. Bapak tua menarik tanganku dan mengajaku masuk kesebuah pintu yang ada
di balik pohon apel itu. Kami memasuki pintu dan kegelapan terlihat dibalik
pintu itu. Ku dengar sebuah teriakan dari kejauhan. hawa panas dan bau busuk
mulai tercium. Pusing dan rasa mual mulai aku rasakan. Tiba-tiba dua orang
memegang tanganku. Kulihat tidak seorangpun aku kenal. Tidak ada bapak tua
disana. Dua orang itu menarikku kesebuah tempat yang panas dan bau yang
menyengat. Disitu terlihat seekor ular penuh luka borok sedang mandi dikolam
yang berkobar api. Terlihat banyak nanah ditubuhnya. Ular itu menengok ke
arahku dan mengahampiriku. Rasa takut dan jijik membuat aku berusaha melepaskan
genggaman tangan dua orang yang memegangiku. Aku berusaha kabur namun tangan
mereka terlalu kuat untuk aku lawan. Aku berteriak dan semakin panik. Ular
menjijikan itu sudah berada didepanku dan bau busuk semakin menusuk hidung. aku
menangis sejadi-jadinya dan.................
Menjerit,
Tubuh berkeringat dingin dan aku tersadar rupanya tubuhku masih terbaring di
ranjang putih apartemenku. itu hanya mimpi. Ya tentu saja sebuah mimpi buruk
bagi orang yang sedang dalam keadaan sekarat sepertiku. Mungkin kalau ada orang
di samping ranjangku ketika aku sakit dia akan menyaksikan aku lebih banyak
mengigau dibanding tidur nyenyak.
kubuka
lemari persediaan makananku, sudah beberapa hari ini aku makan dengan
persediaan makananku yang ada dilemari penyimpanan. sudah tidak ada rasa lezat
yang aku rasakan di ujung lidahku. makanan selezat apapun berubah menjadi pahit
pekat. ditambah tenggorokanku seperti mau pecah. kering dan sakit.
Pagi
itu bel berbunyi kembali. aku muak dengan suara bel. dalam pikiranku, akan ada
kejadian aneh apabila aku membuka pintu apartemenku, aku tidak mau bertemu
dengan siapapun apalagi bertemu dengan bapak tua yang aneh seperti kemarin.
Ketenanganku kembali terusik ketika bunyi bel terdengar kembali bahkah sampai
lima kali. Dengan sedikit perasaan kesal, kupaksakan tubuh ini berjalan
menghampirinya dan membuka pintu apartemenku. Kali ini aku melihat sosok yang
aku kenal, dia adalah Rendro sahabatku. Di membawakan aku bungkusan yang
mungkin berisi makanan dan buah-buahan tapi entahlah.
Dugaanku
benar bungkusan itu berisi makanan dan buah-buahan, rupanya beberapa hari ini
Rendro sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai seorang jurnalis. Entah kenapa
dalam beberapa hari ini dia suka bermimpi aneh tentang diriku. Beberapa hari
ini dia mengirimi sms dan berusaha untuk menelepon namun telponku tidak aktif.
Dia mengira aku sedang sakit dan ternyata memang demikian. Maka dari itu dia
berkeinginan setelah selasai bekerja. Dia akan pergi mengunjungiku.
Ku
ceritakan tentang apa yang kualami selama ini. kedatangan Rendro membuatku
seperti kembali menemukan harapan. Dia merawatku. Berapa kali mengajaku untuk
di rawat di rumah sakit namun aku selalu menolaknya. Hampir seminggu Rendro
merawatku. Biasanya dia selesai bekerja langsung datang ke apartemenku. Dia
menginap disini. Dia bercerita kalau selama aku sakit selalu mengigau, seperti
dugaanku, kadangkala aku berjalan sendiri.
Hari
itu seperti biasanya Rendro pamit hendak bekerja. Dua hari dia ditugaskan
mengadakan liputan ke Semarang. Dia mengaku ada yang aneh di hari itu, tapi
dengan berusaha berpikiran positif, dia justru memberiku sebuah semangat untuk
sehat kembali.
Menjelang
malam aku telah bersiap-siap untuk merasakan rasa sakit yang akan aku rasakan.
Akan kutahan sekuat tenagaku. Bahkan kalau bisa akan ku lawan rasa sakit ini.
Malam
itu hening, malam itu dingin, tak terdengar suara apapun di dalam maupun diluar
apartemenku. Aku berbaring di ranjang putihku. Tak ada rasa sakit, tak ada rasa
mengigil, tak ada demam. Menjelang subuh terdengar suara gemuruh kemudian
hening kembali dan hawa dingin seperti tertiup di wajahku. Bau bunga melati
mulai tercium dan ku lihat ada sebuah cahaya yang tiba-tiba masuk kedalam
kamarku. Terlihat sosok wanita berwajah jelita. Dia tersenyum dan mengulurkan
tangannya. Aku menyambutnya dengan senyum. Tubuhku tiba-tiba melayang
bersamanya. Apartemenku seperti ruangan tanpa tembok. Aku diajak naik. Ku
tengok ke bawah dan ternyata disana terdapat seorang pria yang sedang terbaring
di ranjang putih. Aku seperti mengenal sosok pria itu. Setelah beberapa saat
aku sadar kalau pria itu adalah diriku sendiri. Air mata menetes di pipiku. Aku
tersadar ini adalah hari aku berada di dunia. Si cantik jelita bercerita banyak
selama perjalanan termasuk tentang si bapak tua yang mengirim surat. Dia adalah
malaikat. Nam Sam Nam namanya sekaligus mempunyai arti Bersiaplah. Dia selalu
memberikan ‘tanda’ kepada orang yang akan mendekati kematian dengan cara yang
berbeda-beda. Aku bertanya kepada si cantik jelita apa isi surat itu dan kenapa
aku tidak bisa membacanya. Dia berkata bahwa surat itu berisi sebuah peringatan
agar aku bersiap-siap akan menghadapi kematian. Sungguh beruntung yang diberi
surat itu sebelum ajal menjelang, itu artinya orang itu adalah orang yang
‘terpilih’. Inilah jawaban dari pertanyaan yang selalu ada dalam benakku.
Kepergianku meninggalkan hiruk-pikuk dunia menjelang subuh telah terjadi. Itulah
alasan kenapa aku katakan didalam pertanyaan tentang Ke-Mati-an, Aku pernah
mendengar, melihat, dan bahkan ‘merasakan’ kematian itu sendiri.
Itulah
ceritaku, saat ini aku bisa melihat sahabatku ‘Rendro’ menangisi pemakamanku di
Sandiego Hill Karawang. Aku berada di sekitarnya. Tapi dia tidak menyadari hal
itu. Kita sudah berbeda dunia. Kelak kita pasti akan berjumpa wahai sahabatku J
Tamat.....
Penulis: Wawan P. Sirait