Cerita 4 :
Jakarta, 03
Desember 2013
Kontrakan Bimbang
Kini Rendro membaca tulisan dari temannya Ihsan dan Samsul. Dia sudah
mati di akhirat tulisannya ihsan dan menjadi objek tipuan di tulisannya Samsul.
Sebenarnya Rendro itu adalah mahluk berjenis manusia lelaki yang tinggal di
kontrakan bimbang. Tapi ini bukan cerita tentang dia. Ini cerita tentang
kontrakannya dan dua temannya itu. Dulu kehidupan disana dimulai jam 9 pagi,
dikala alarm hp dan suara monyet menyeruak mencipta keributan tapi para
mahasiswa film disini cuek tak mempedulikannya. Pola yang sama terus berulang,
mereka kesiangan, kuliah tak karuan dan nilai mereka berantakkan. Bulan
berganti bulan kekacauan semakin menjadi. Kontrakan semakin absurd. Semua
mahluk kontrakan terkena cacar dari monyet yang jadi rabies. Uniknya Samsul
terkena cacar di dalam telinganya dan Ihsan terkena cacar di dalam hidungnya.
Mereka berdua pun membuat dokumenter tentang cacar unik mereka itu. Lalu
dokumenternya diikutkan kepada festival film nasional menang. Diikutkan
festival film Internasional dan menang. Uangnya mereka pakai untuk mengobati
cacar mereka untung cacar mereka sembuh, tapi sialnya mereka salah suntik dan
terkena HIV. Kata dokter rondel yang mengobati mereka akan mati 6 bulan lagi.
Sebelum mati Ihsan dan Samsul melakukan aksi tantangan gila. Mereka
berdua menantang satu sama lain siapa yang bisa membuat film lebih hebat dan
bisa membuat Kontrakan Bimbang menjadi perusahaan film terbesar sedunia, mereka
yang menang.
Mereka pun berjuang
mati-matian sebelum mereka benar-benar mati. Samsul kerja sampingan menjadi
koki, Ihsan menjadi web designer. Hasil mereka sebulan dipakai untuk membuat
film independent murah dengan cerita yang gila-gilaan. Samsul membuat film
After Rain film tentang budaya setelah hujan di sudut Jakarta dan Ihsan membuat
film Dicky Swallow dimana semua tokohnya hanya bisa melihat sandal swallow yang
mereka pakai tanpa bisa melihat ekspresi tokoh lainnya. Dua bulan berlalu. Sisa
4 bulan lagi sebelum mereka mati. Di bulan ketiga film mereka menang
festival-festival film internasional tingkat dewa termasuk Cannes, Sundance,
Venice, dll. Film mereka pun ditayangkan dibioskop untuk apresiasi.
Nama Kontrakan Bimbang mulai
dikenal nasional hingga internasional. Tiga bulan lagi sebelum kematian. Bulan
keempat Samsul dan Ihsan semakin banyak melebarkan nama Kontrakan Bimbang hingga
menjadi Perusahaan film setingkat nasional. Bulan kelima mereka membuat
berbagai acara program tv, ftv, iklan, video klip dengan striping yang ganas.
Samsul dan Ihsan hanya tidur selama setengah jam setiap hari. Kontrakan Bimbang
masih berada dalam taraf yang stuck disitu-situ saja dan tak ada peningkatan.
Sisa sebulan lagi sebelum Samsul dan Ihsan mati. Samsul dan Ihsan yang
sebelumnya tidak pernah berbicara satu sama lain selama lima bulan karena
tantangan film mereka akhirnya angkat bicara.
Mereka berpikir realis dalam
waktu sebulan tidak mungkin mereka bisa membuat Kontrakan Bimbang menjadi
perusahaan film terbesar di dunia. Realis itu jadi pesimis. Tapi Samsul
berusaha optimis berpikir “tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini”. Mereka
pun berguru bersama Cak Nenen guru religius mereka mulai rajin sholat
berjamaah, belajar mengaji dan bersedekah. Sisa 29 hari sebelum hari kematian.
Mereka menjadi pembuat film agamis. Mereka membuat film rohani dan menobatkan
para penjual film bokep di glodok dan seantero Jakarta lainnya. Kontrakan
Bimbang mulai menguasai industri perfilman di daerah Kwitang dengan para
pekerjanya bekas penjual kaset bokep yang tobat dan warga setempat yang di
didik secara grilya.
Kontrakan Bimbang mulai
membuat film pendek dengan program 100 film pendek, 1 film panjang setiap hari.
Film mereka keliling dunia dan menjadi terkenal mengalahkan sistem dogma 95,
sistem sinema Kontrakan Bimbang dikenal mendunia. Sisa waktu 14 hari lagi
sebelum waktu kematian.
Samsul dan Ihsan semakin
gencar membuat film mengajak teman-teman dan pegawai Kontrakan Bimbang untuk
membuat film semakin banyak. Dalam satu hari membuat 1000 film pendek dan 3
film panjang yang mustahil dilakukan perusahaan film biasa. Perusahaan film
Kontrakan Bimbang bangkrut karena film mereka menjadi film yang murahan dan
uang untuk memproduksi sudah habis. Kontrakan Bimbang kembali menjadi kontrakan
biasa. Mimpi menjadi perusahaan film terbesar sedunia pun sirna. Samsul dan
Ihsan depresi.
Sisa satu hari lagi sebelum
Samsul dan Ihsan mati sesuai perkiraan dokter Rondel. Satu hari mereka
menghabiskan hari dengan bertobat. Besoknya cahaya menembus dari balik jendela.
Cahaya kekuningan menerpa muka Samsul dan Ihsan yang tertidur. Suara monyet
tidak ada lagi. Karena monyetnya sudah dijual. Hanya tinggal suara alarm. Jam
terus berputar. Jam 8 pagi, Jam 9 pagi, jam 10 pagi, jam 11 pagi, jam 12 siang.
Lalu mereka bangun dan terkejut karena mereka masih hidup. Mereka pun lapar dan
pergi ke warteg, mereka makan, muka mereka lesu. Mereka melihat TV dan melihat
dokter yang memberitahukan mereka HIV ditangkap karena diduga dia adalah dokter
gila yang salah memberikan resep ke pasien-pasiennya. Samsul dan Ihsan
terkejut. Lalu ada suara Rendro mengawang-ngawang di langit bergema seperti
sound effect di film-film. Suaranya “Woy.. Bangun, Woy Kuliah gak, Woy bangun
kuliah gak”. Samsul dan Ihsan lalu terbangun dari tidurnya. Ihsan bercerita
mimpinya, Samsul bercerita tentang mimpinya, mimpinya sama. Cerita dengan
ending klise ini ditutup. Terima kasih.
Written By : Rendro / Narindro AH

No comments:
Post a Comment