Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Molekul Pikiran

Cerita 17
Jakarta, 14 Maret 2014
MOLEKUL PIKIRAN
Penulis: Rendro Aryo Hutomo

“Aku tuliskan ini untuk seorang gadis bernama kebosanan yang terus menyertai hidupku timbul-redup tak menentu seperti perasaan saat kita mau kencing yang tak bisa diatur oleh pikiran. Aku tuliskan ini untuk seorang perempuan bernama Inspirasi, yang saat aku butuhkan dia menghilang, tapi bisa hadir tiba-tiba, seperti keinginan saat buang air besar yang juga tak bisa diatur. Aku persembahkan tulisan ini untuk seorang gadis yang tak pernah ku temui, yang hanya ada dalam mimpiku, yang tak ku ketahui namanya, yang saat aku ingin menuliskan tentangnya, aku lupa kisah-kisahnya, aku tulis ini untuk mengingat itu, memotret keindahan itu dan menguncinya dalam  otakku agar tak lepas-lepas”.
Ini kisahku. JANGAN DIBACA.
Dan aku menyudut, tersudut dan disudutkan dalam larutan popularitas yang staknan dan tak bisa digerakkan, seperti robot canggih yang sudah rusak mesinnya, seperti itulah kinerja hidupku saat ini.
Sturktur-struktur, pola-pola, jaringan-jaringan yang mati suri dan minta di doakan setiap hari agar bisa tumbuh subur seperti tanaman yang telah diberi kotoran ternak. Aku adalah mahluk bernama manusia tinggal di kotak-kotak semen yang disusun sedemikian rupa dengan rumus arsitektur yang kini jadi asal-asalan. Aku adalah lelaki pemimpi, yang mimpinya terlalu tinggi. Bahkan saking tingginya mimpi ini mampu menembus langit ketujuh, lalu lapisan langit lainnya yang tak mungkin ada, lapisan langit satu trilyun bahkan lapisan langit yang tak bisa dihitung lagi bilangan aritmatikanya.

Aku pernah bermimpi menarik matahari, dengan cara aku muntah keluar dari bumi, lalu aku melayang dan bisa hidup tanpa oksigen, bisa bergerak bebas walau tanpa gravitasi di luar angkasa. Aku bergegas menuju matahari. Ku pegang matahari itu dengan jemariku, matahari itu jadi beku, warna kuning kemerahannya jadi biru, lalu matahari itu pecah berkeping-keping, pecahannya beterbangan seenaknya, kemana saja, sesuka hati mereka, menuju rasi bintang antah-berantah dan menghilang. Yang tersisa adalah inti matahari yang sebesar bola kaki. Aku mantrai matahari itu hilang panasnya. Aku makan inti matahari itu seperti makan donat dan kini tubuhku bersinar sangat terang. Dari lubang tubuhku, lubang mulutku, lubang hidungku, lubang telingaku, lubang mataku, lubang duburku keluar cahaya terang menembus-nembus berkilauan. Kini aku menggantikan matahari yang hanya bisa diam ditempat dikelilingi planet di sekitarnya. Aku berbeda. Aku adalah matahari yang bebas aku matahari yang punya pikiran dan bisa bergerak bebas semauku. Ku harap begitu dalam mimpiku.
Tapi apalah daya aku hanya manusia biasa yang hidup di dunia nyata. Aku punya impian bisa menginjak daratan Amerika, tempat budaya pop merajalela meracuni manusia-manusia. Sudah capek ngetik.
Mungkin kau bosan membacanya, atau kau tak membacanya karena ada tulisan JANGAN DIBACA.
Ya sudahlah ini unek-unekku saja.
Habis.

Untuk Windi (Tokoh Fiksi Rekaanku) yang suka bilang “AH-AH-AH”.





Penulis: Rendro Aryo Hutomo
Kata kunci: Amerika

2 comments:

  1. Tulisannya bagus, menarik dan menghibur. Ditunggu cerita-cerita lainnya :)

    ReplyDelete

Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB