Project nulis keliling dari temen satu ke temen yang lain :)

Sepanjang Jalan


CERITA 1
Selasa / 3 Desember 2013

SEPANJANG JALAN


          Hari ini seperti hari biasanya aku bertemu Widya di pinggir sungai. Akhirnya aku bisa mengetahui rahasianya. Aku buang air besar di sungai dan dia keluar seperti sebelum-belumnya karena ada bau busuk yang menganggu. Dia pun mulai bilang alasan kematiannya. Dia mati seminggu yang lalu, karena hanyut terseret aliran sungai yang deras. Dia sedih karena mayatnya belum ditemukan keluarganya. Dia belum bisa kembali ke alam baka karena itu. Dia minta bantuanku mencari mayatnya.  Aku mengajaknya bertemu kakekku di dalam gua Larajiwa, Kakekku yang buta sedang bertapa, dia seorang dukun dan aku mewarisi darah keturunan bisa melihat roh darinya. Aku minta izin darinya untuk pergi menemani Widya. Dia mengizinkan dan dia mati karena takdirnya. Aku mendapat wasiat untuk menguburkannya di gunung buah dada, dia ingin dimakamkan disebelah nenek. Aku membopongnya. Ini petualanganku menguburkan Kakek dan mencari mayat Widya.

         Aku melewati hutan asap dan aku bertemu Bismi manusia gendut yang menangis karena dia bersuara seperti babi. Dia ingin mengambil bunga  kasih di gunung buah dada, kebetulan aku mau kesana dan aku mengajaknya. Kami berjalan berempat, Aku, mayat Kakekku yang mati, Widya yang ingin menemukan mayatnya dan Bismi yang ingin menghilangkan suara babi. Kami sampai di reruntuhan bangunan tua Rusuka dan  kami harus berlari dari kejaran manusia bertopeng yang menembaki kami. Dia ingin mayat Kakek. Kami berusaha melawannya sekuat tenaga. Dia akhirnya mengalah. Aku membuka topengnya dan aku terkejut bukan main ternyata dia adalah kembarannya Kakek. Ternyata dulu nenek bersuami dua dia dan Kakek. Tapi nenek lebih memilih Kakek dan dua kembaran ini mulai bermusuhan. Dia minta maaf dan karena luka serangan kami, dia meninggal di tempat.  Kini aku membawa dua mayat kakek-kakek. Aku membopong mayat Kakekku dan Bismi membantu membopong mayat saudara kembar Kakekku.

         Setelah melewati rasa panas, dingin yang hampir membunuh. Akhirnya kami tiba di gunung buah dada, pelangi bersinar terang sehabis hujan. Disini aku mengubur Kakek dan saudaranya, disebelah makam nenek. Lalu aku menyiram makam Kakek. Betapa terkejutnya Bismi ternyata makam kakekku berubah menjadi sebuah bunga yang tumbuh. Itu adalah bunga kasih yang dicari bismi. Dia memakan bunga itu dan suaranya bukanlah suara babi lagi kini dia bersuara seperti burung. Alangkah bahagianya dia. 

         Kini tinggal menyelesaikan masalah Widya dan kami melanjutkan perjalanan kembali, kami bertiga terus berjalan mencari arah tujuan. Kami terus melanjutkan perjalanan, sampai melewati mayat prajurit di lumpur areal peperangan. Disini kami tiba di sebuah kampung mati. Widya menangis keluarganya mati akibat perang yang berkecamuk. Kami tiba di sungai dan berhasil menemukan mayat Widya. Widya tidak bisa kembali ke alam baka karena semua keluarganya sudah mati. Aku menghiburnya.

        Kami disini bertiga. Dan Bismi melontarkan ide dia mau ke negeri kata dia mau mencuri bunga kata. Katanya dengan bunga itu dia bisa berbicara seperti manusia. Kami melanjutkan perjalanan baru. End.



Written By : Rendro / Narindro AH

2 comments:

Check Page Rank
Copyright © Nulis Keliling. All rights reserved. Template by CB